Selasa, 30 Juli 2013

Hang Tuah

Waktu menunjukan pukul 04.30 dini hari, sudah saatnya aku untuk bangun dan melakukan sholat shubuh. Tubuhku yang kering kerontang ini, dan juga sudah mulai tidak kuat untuk berdiri lama akibat penyakit yang aku alami sejak dulu, tak menghalangiku untuk bersemangat mencari rezeki yang disiapkan dan diberikan Tuhan kepada semua hamba-hambanya disetiap harinya.
Pukul 05.00 pagi dini hari selesai sholat shubuh, aku mempersiapkan segala sesuatunya yang biasanya aku lakukan setiap harinya. Aku mempersiapkan hasil kebunku untuk dijual kepada orang-orang yang barangkali menginginkannya.

Aku memiliki kebun sendiri walaupun tak cukup luas dan besar namun dari kebun itu dapat menghasilkan beberapa lembar rupiah untuk keperluan hidupku setiap harinya.
Aku tak ingin dan tak bisa untuk berdiam diri dan berpangku tangan seharian tanpa melakukan apapun. Aku tinggal di daerah perkampungan yang kumuh namun masyarakatnya disana sungguh memiliki sikap kekeluargaan, sehingga antara satu dengan yang lainnya sudah sama-sama dekat sudah seperti keluarga sendiri, walaupun aku hidup disebuah gubuk yang aku anggap rumah, dan aku hidup sendirian tanpa teman yang dapat menemaniku, jika kuingin mengobrol maka aku keluar rumah untuk ngobrol-ngobrol dengan tetangga-tetanggaku disekitarnya.

Waktu menunjukan pukul 05.30 sudah saatnya aku untuk bersiap-siap berjualan hasil kebunku yang ingin kujual kepada orang-orang yang membutuhkan, hasil kebun seperti pisang, rambutan, dan juga terkadang sayur mayur aku kumpulkan dalam sebuah wadah yang nantinya aku akan masukan kedalam sebuah tempat yang terbuat dari kayu untuk kusatukan semuanya dan kemudian dari wadah kayu tersebut aku sangkutkan dengan sebatang bambu untuk membopongnya, karna daganganku ini aku pikul.

Walaupun aku sudah tak seperti dulu lagi dan sekarang sudah mulai sakit-sakitan, tapi rasa itu semua tak akan kubiarkan mengalahkan semangatku untuk mencari nafkah. Dipagi hari yang cerah aku selalu berharap kepada Tuhan agar daganganku ada yang terjual walaupun hanya satu. Kupikulnya daganganku menuju tempat yang biasa aku jadikan tempat untuk berjualan, aku berjualan didepan sebuah rumah yang memiliki toko, karna ku tau toko itu bukanya sedikit rada siang maka aku ambil kesempatan untuk berjualan di situ yang sebelumnya aku telah meminta izin kepada sang pemeilik rumah, karna jika aku berjualan ditempat lain, aku harus membayar biaya sewa tempat setiap harinya. Aku berjualan di komplek perumahan dan berlokasi di sekitar depan kompleknya, jadi pada saat pagi hari, siapa saja yang melewati tempat itu, maka akan melihatku juga.

Sesampainya disana aku membersihkan tempatnya agar nampak terlihat sedikit bersih, aku membersihkan halaman tempat aku berjualan dengan daun pisan kering yang menempel pada pisang daganganku. Kebanyakan mereka yang membeli daganganku adalah mereka yang merasa iba dan kasihan kepadaku, walaupun sebenarnya aku paling tidak suka dikasihani tapi aku membutuhkan uang nntuk biaya hidupku setiap harinya. Mereka iba kepadaku karena aku ini merupakan seorang laki-laki tua paruh baya yang sudah berusia lebih dari setengah abad, badanku pun kurus kering dan kelihatan sakit-sakitan, jalanku saja tidak lagi tegap seperti yang lainnya, aku berjalan bungkuk karna sebuah faktor yang dinamakan “fakor u” yaitu faktor usia.
Tak jarang aku melihat anak-anak seusia di bangku sekolah menengah hilir mudik untuk berangkat sekolah setiap hariya, setiap aku melihat mereka, aku selalu membayangkan wajah cucuku, mungkin dia akan terlihat sama seperti anak-anak sekolah lainnya  jika dia masih berada disini bersama dengan anak-anakku. Anak-anakku pergi meninggalkanku karna kini mereka semua telah bekerja dan tinggal menetap di dekat tempat kerjanya, dan ada pula yang ikut suaminya dan pulang ketika lebaran, sedangkan istriku sendiri, telah pergi meninggalkan ku karna dipanggil sang maha pencipta menghadap kepadanya, beliau pergi ketika kami sedang mengadakan sholat shubuh berjamaah, ketika sujud terakhir, beliau tidak bangun lagi, selepas ku selesai sholat aku memanggil namanya dengan lembut dan menyentuhnya, namun ketika aku menyentuhnya, tubuhnya lemas tak berdaya da terjatuh kesamping, seketika itu juga aku menyadari bahwa beliau telah tiada. Tak terasa air mata membasahi pipiku mengalir sangat deras, namun aku bahagia karna beliau dipanggil sang maha kuasa ketika sedang bersujud menghadap kepadanya.

Anak-anak ku menyuruhku untuk ikut dengan salah satu dari mereka agar aku ada yang megurusnya dan agar aku tak sendiri, sering kali mereka menawarkan rumah baru yang lebih baik lagi untuk tempat aku tinggal, namun aku menolaknya. Aku lebih suka untuk tinggal dan menetap di gubuk tua yang aku punya ini menghabiskan sisa umurku bersama dengan teman-teman sebayaku dan tetangga-tetanggaku yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri.

Aku berjualan hasil kebunku ini tidak setiap hari hanya ketika hasil kebunku berbah saja, dan ketika hasil kebunku tak berbuah dan tak ada yang bisa untuk kujual, maka aku membuat sapu lidi dari daun kelapa yang diambil batangnya lalu kukeringkan dan aku  jual. Tidak setiap harinya, dagangan yang aku jual dan tawarkan itu laku satupun, maka keesokan harinya aku kembali menjualnya lagi selagi masih bisa dijual dan belum busuk. Disetiap pagi yang kulalui dengan berjualan hasil kebunku, aku selalu berharap dan berdoa agar aku dapat disatukan kembali dengan istriku di akhirat nanti. Inilah aku seorang kakek-kakek tua paruh baya yang umurnya sudah hampir satu abad yang tak kenal lelah untuk bekerja dan mencari uang untuk kebutuhan hidupku, walaupun hanya kulit yang melapisi badanku ini dan dengan keadaan yang sakit-sakitan.

Senin, 22 Juli 2013

Apalah Aku

Ketika aku dipuja dan selalu dijadikan nomer 1 untuknya, semua dia lakukan untuk ku, tak perduli apa kata orang diluar sana yang penting dia bisa merasa senang bersama denganku. Setiap saat saat aku selalu dipujanya, setiap waktu aku selalu berada disampingnya, ketika dia menangis dan mencoba untuk berbagi kisahnya denganku, aku selalu ada untuknya disampingnya mendengarkannya.

Sentuhan lembut tangannya yang selalu kurindukan, aku adalah bagian dari hidupnya, kemana-mana dia pergi selalu bersamaku dan ingin pergi bersama denganku.
setiap harinya pasti kau hiasi hari-harimu dengan kata-kata sayang yang ka berikan kepadaku, kau selalu memelukku dengan erat dan tak pernah kau coba untuk lepaskan, dan tak jarang kau pun juga menciumku dengan penuh kasih sayang dan penuh kehangatan.

ketika musim hujan datang, aku lah yang selalu menjadi tempat untuk menghangatkanmu, kau memelukku dengan sangat erat sampai terkadang aku susah untuk bernafas.
kita lalui masa-masa indah bersama-sama cukup lama, kau mencintaiku dan akupun mencintaimu walaupun kini sekarang aku sudah hampir dilupakan atau di nomer duakan karna kau sudah melihat yang lebih indah dan lebih bagus lagi daripada aku yang sekarng ini.

kini kau sudah sibuk dengan duniamu sendiri dan dengan kehidupanmu yang baru beserta lingkunganmu yang baru, kini kau sudah banyak berubah, kau sudah melupakanku, dan aku merasa tak ada gunanya lagi.
kau datang kepadaku ketika kau menginginkan dan ada butuhnya saja, setelah itu aku kembali lagi kau lupakan. ku akui aku sudah bukan siapa-siapamu lagi dan tak bisa memaksakan keinginan ku untuk selalu bisa bersama denganmu, karna ku tau kau sudah mengacuhkan aku, kau sudah menemukan yang lebih bagus dan lebih baik lagi daripada aku yang selama ini selalu menjadi bagian hidupmu. ingin rasanya menangis dan berteriak sekencang-kencangnya, betapa tak adilnya dunia ini, tapi kutak bisa berbuat apa-apa. aku selalu merindukan masa-masa itu bersamamu, aku selalu cemburu saat kutahu aku sudah tak dianggap olehmu dan kau sedang bersenang-senang dengan yang baru tanpa memikiranku sedikitpun.

Pernahkah kau merasakan hal yang aku rasakan seperti ini ? aku berharap kau tak pernah merasakan semua sakit yang selalu kurasakan karna sifatmu, karna aku tak ingin kau merasakan sakitnya ini, tapi aku hany ingin kau berfikir.

Kini aku hanya bisa terdiam dan memohon kepada tuhan agar Tuhan selalu memberikan perlindungnnya kepada dia karna kau sudah tak menginginkanku untuk selalu bersama-sama lagi seperti dulu. aku hanya bisa meratapi diriku sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa, karna aku hanyalah sebuah boneka kusam yang dulunya selalu di agung-agungkan setiap saatnya, namun karna kau telah memiliki boneka yang lebih bagus lagi daripadaku maka kau kini melupakanku dan tak memperdulikanku.

Beginilah aku, aku hanyalah sebuah boneka yang dimiliki oleh seorang wanita, dia adalah seorang anak kecil yang mempunyai hati begitu lembut.
Sebuah boneka akan selalu menjadi sebuah boneka, itulah takdir menjadi sebuah boneka.

Senin, 08 Juli 2013

REALITA KEHIDUPAN


Waktu menunjukan pukul 2 pagi, pagi-pagi buta aku sudah harus bangun untuk mempersiapkan semua keperluan yang setiap harinya aku lakukan, ketika semua orang masih tertidur pulas, aku sudah harus bangun untuk mempersiapkan bahan-bahan yang harus aku olah untuk kujadikan makanan yang akan ku jual paginya. Setiap paginya aku harus membersihkan butiran-butiran kedelai yang akan ku olah untuk kujadikan tempe, selain itu aku juga harus mempersiapkan bahan-bahan untuk pembuatan bakso, karna selain aku menjual tempe aku juga menjual bakso. Selepas adzan shubuh aku memasak bahan-bahan yang akan kujadikan bakso, semua itu aku buat setengah matang dulu kecuali tempe karna tempe ini pada pagi harinya harus aku setorkan kepada pelanggan-pelanggan tetapku sebelum aku berangkat kuliah,  karna pada pagi harinya sampai siang hari aku harus mengikuti perkuliahan seperti teman-temanku yang lainnya, usai dari perkuliahan aku langsung kembali ke kontrakan yang aku sewa bersama dengan teman-teman yang lainnya untuk ku persiapkan semua dagangan ku. Setiap harinya aku berjualan bakso didekat kampus karna disanalah kiranya tempat yang tepat untuk aku berdagang, jika aku sedang tidak bisa untuk berjualan bakso karna jadwal kuliahku, maka aku menyuruh temanku untuk berdagang sementara sampai aku selesai kuliah dengan memberikan sedikit upah kepadanya, namun dia tak pernah mau untuk menerima pemberianku ini karna mereka tau bagaimana kondisiku, mereka semua membantuku dengan ikhlas. Alhamdulillah walaupun tidak sepi tapi warung bakso ku setiap harinya ada saja yang membelinya, dan karena cara penyajianku yang menyenangkan pelanggan dan mereka semua mengatakan kalo bakso yang kujual ini rasanya enak, maka tak jarang juga daganganku ini ada yang memesannya untuk acara pernikahan dan hajatan bagi pelanggan-pelanggan ku. Semua ini aku lakukan agar aku dapat mencukupi kebutuhan ku sendiri dan membiayai adik-adikku di kampung halaman.
Aku adalah seorang mahasiswa jurusan ekonomi penjual bakso dan tempe yang Alhamdulillah masih dapat berkuliah di salah satu Universitas ternama di Indonesia. Aku bukanlah orang yang mampu seperti teman-teman kuliahku, aku masuk Universitas disini karena beasiswa yang aku dapatkan saat aku mencoba tes masuk di sini. Aku merupakan anak tertua dari ke empat adik-adik ku yang saat ini adikku yang paling besar  juga sedang berkuliah disalah satu Universitas ternama di kampungku, adikku yang ke dua dia saat ini sedang mengambil kejurusan dari mata pelajaran yang dia iniginkan, dia mengambil jurusan kumunikasi yang sebentar lagi selesai dan akan lulus, sedangkan adikku yang paling kecil dia saat ini sdang duduk di bangku sekolah dasar dan terakhir aku melihat dia adalah ketika dia masih kecil, semua adik ku adalah perempuan dan mereka semua cantik-cantik seperti bintang film yang berada di TV, kampungku berada di Kabupaten Sragen Jawa Tengah, dan aku hidup di kota besar seperti Jakarta ini membuatku harus benar-benar memutar otak untuk dapat menghasilkan uang tambahan untuk tambahan biaya kuliahku dan biaya aku menginap disini, untuk saat ini aku hanya mampu menyewa sebuah kontrakan yang berisi 4 kamar yang di isi oleh aku dan teman-temanku. Karena kami tinggal dalam satu atap maka kedekatan kami pun seperti keluarga, dan yang paling tua di antara teman-temanku adalah aku, dan akulah disana yang menjadi imam dari orang-orang yang berada satu atap denganku.
Sudah hampir delapan tahun aku berada di ibukota Jakarta tanpa pernah kembali pulang untuk bertemu keluargaku, bukannya aku tak mampu untuk mengikuti pelajaran yang diberikan oleh semua dosen-dosenku, dan bukan pula aku tak ingin kembali pulang bertemu dengan keluarga tercintaku yang sudah mengharapkanku untuk kembali pulang menyelesaikan kuliahku, namun aku begini karna aku disini mencari uang untuk kukirimkan ke kampung halamanku dan untuk biaya hidupku sendiri. Tak ada kata libur dalam kamus hidupku, selagi aku masih kuat dan mampu untuk bekerja, belajar, dan mencari uang mencari uang, maka itu semua akan kulakukan untuk membuatku keluarga ku bahagia dan bangga. Terkadang aku iri melihat teman-teman sebayaku yang sedang bermain bersama dengan yang lainnya, tak jarang juga aku ingin seperti teman-temanku yang sekarang sudah lulus kuliah, bekerja, dan mempunyai seorang istri, aku ingin meminang wanita yang aku cintai dan ingin kujadikan istri, namun aku sadar siapa aku ini, aku hanyalah seorang penjual bakso dan tempe yang tak bisa mendapatkan keinginan seperti yang ku mau tersebut, mana ada seorang wanita dizaman sekarang yang mau dengan seorang penjual tempe yang tidak mempunyai apa-apa ?, mana ada orangtua yang mau anaknya dinikahi oleh seorang penjual tempe seperti aku ini di zaman sekarang ini ? para orangtua pastinya menginginkan anaknya mendapatkan suami yang sudah jelas pekerjaanya dan netap penghasilannya, bukan seperti aku ini yang pekerjaannya hanya menjual bakso dan tempe dan penghasilan yang aku dapatkan perbulanpun tidak menetap seperti orang-orang yang bekerja di perkantoran, terlebih aku sampai saat ini belum kelar juga kuliahnya, aku hanya bisa bermimpi mendapatkan seoarang putri raja yang mau kujadikan istri.
Disela-sela waktu istirahatku, tak pernah aku lewatkan untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang menciptakanku, yang membuat aku dapat sampai seperti sekarang ini berkat semua rizki dan kemurahannya. Dalam sujud aku selalu meminta dan memohon kepada-Nya untuk selalu memberikan perlindungannya kepada keluargaku di Sragen, Jawa Tengah. Air mata rindu ini selalu membasahi pipi ketika ku rindu kepada sosok Ayahku yang kini telah hidup dengan tenang di alam sana, setiap malamnya selalu ku kirimkan do’a untuk beliau disana, aku dapat seperti sekarang ini berkat didikan beliau, beliau selalu membekaliku dengan agama-agama, pesan beliau sebelum pergi adalah “Ndo,Le, papa ndak bisa mewariskan harta kepada kalian karena papa bukanlah orang kaya, dan papa takutkan karna harta itulah kalian nanti justru saling bermusuhan, warisan yang dapat papa berikan ke kalian adalah ilmu, karena seseorang tanpa ilmu seperti orang yang berjalan tanpa tujuan, karena dengan ilmulah nanti yang akan membawa kalian kedalam kesuksessan”. Setiap malamnya yang ada dalam benak kepalaku sebelum aku tidur memejamkan mata, adalah bu’e, tawa dan senyumnya yang selalu menguatkan kehidupanku, aku teramat sangat rindu dengan Bu’e, rindu masakannya yang selalu saja bisa membuatku mengatakan “waah.... bu’e ini, masakannya selalu saja enak, padahal yaa cuman ikan sama sambal tok, masakan di restoran kalah iki bu’e”, karna disini aku setiap harinya hanya membeli lauk jadi di warung makan sebelah kontrakan ku, dan kalaupun masak, aku hanya bisa masak telor.
Kini akulah yang menjadi tulang punggung keluargaku, walaupun kini adik ku yang paling besar kini sudah mampu menghasilkan uang sendiri dari karya-karyanya, dia suka sekali menggambar dan membuat beberapa design, dan karena keahlian dan hobinya itulah kini dia telah mampu mencari uang sendiri membantu meringankan beban kebutuhan keluarga. Hari libur aku kupergunakan untuk mencari rizki lebih banyak lagi, tak hanya aku menjual bakso saja pada saat hari weekend, tetapi aku juga mulai menjual rokok dan pulsa untuk tambah-tambahan. Setiap bulannya aku kirimkan beberapa ratus ribu kepada keluargaku di kampung. Tak jarang bu’e bertanya kepadaku “kapan bu’e bisa menimang cucu seperti orangtua yang lainnya?”, dengan lembut aku menjawab pertanyaan bu’e “Insya allah bu’e secepatnya, mohon do’anya saja bu’e”, mendengar perkataan bu’e ini aku semakin sedih, karena sempat aku jatuh cinta kepada seorang wanita yang begitu anggun dan baik paras dan tingkah lakunya, namun karena realita kehidupan maka ku urungkan niat untuk melamarnya karna wanita itu merupakan anak dari seorang yang bisa dikatakan tinggi tingkatan derajat dan martabatnya dan sedang mengambil S2 di Universitas yang sama denganku. Aku mengetahui hal ini dari pakde ku yang kebetulan kenal dengan wanita tersebut, mendengar aku ingin melamarnya walaupun aku belum pernah sempat dekat dengan wanita tersebut, lantas pakde ku pun berkata “ Le.. mbo ya kamu sadar, kamu itu sedang membicarakan siapa ? Dia itu anak pejabat le, nda mungkin lah dia mau denganmu yang cuman berjualan bakso dan tempe, terlebih dia sudah di khitbah oleh seorang lelaki yang sudah mapan dan kehidupannya jelas, jadi kamu sadar diri aja le, insya allah masih banyak diluar sana yang baik untukmu.” Lantas aku pun terdiam dan menjawab “inggih pakde“. (diadopsi dari kisah yang terdapat dalam ketika cinta bertasbih karangan habiburrachman el shirazy)

Minggu, 30 Juni 2013

Rintihan dan Tangisan di Malam Hari

Banyak yang mengatakan kalau masa SMA adalah masa-masa paling indah bersama-sama dengan teman dan orang-orang yang dekat dengan kita, dan hal itupun memang benar adanya dan ku alami sendiri. Aku merasakan banyak hal yang indah ketika aku berada dibangku SMA, banyak kenangan manis dan indah yang telah kulalui bersama-sama dengan teman dan orang terdekatku salah satunya adalah ketika ku suka dan sayang terhadap seseorang.

Aku adalah seorang perempuan yang berumur 18 tahun ketika aku duduk dibangku SMA, pada waktu kelas 3 SMA aku sekelas dengan seorang teman laki-laki yang bernama Azrul, dan akupun sendiri bernama Manda. Aku merasakan cinta pada waktu itu kepada azrul dan azrul pun juga demikian kepadaku, sebelumnya kami pun pada waktu kelas 1 SMA juga sekelas, namun pada waktu itu aku hanya suka-suka biasa aja, maklum lah namanya juga anak yang baru remaja, nah pada waktu aku di kelas 1 aku suka bercanda dan ledek-ledekan dengan azrul, dan azrul pun merasakan kebahagiaan juga karna tampak terlihat jelas di wajahnya, saaat kelas 3 dan ternyata aku sekelas lagi dengan dia dan sering ngobrol-ngobrol dengannya, aku merasakan sesuatu yang berbeda, saat dengannya aku merasakan ketenangan yang tak pernah aku dapatkan ketika aku sedang dekat dengan temanku yang lain khususnya adalah cowo. Aku ternyata sayang kepadanya, dan setelah dikorek-korek informasi dari teman-teman yang lain ternyata azrulpun juga suka dan sayang kepadaku.

Memang azrul ini wajahnya tidak begitu tampan dibandingkan dengan teman-teman ku yang cowo diluar sana, namun dia memiliki suatu kharisma tersendiri yang dapat membuatku merasakan hal yang pernah aku rasakan dengan orang lain sebelumnya. Waktu terus berlalu dan semua tawa dan suka pun ikut berlalu sampai azrul pada suatu hari mengatakan sesuatu "Manda, sudah lebih dari 4 bulan kita jalan bareng dan banyak berbagi kisah, aku sayang sama kamu dan akupun tau kalau kamu pun juga sayang sama aku, apakah aku boleh untuk menjadi kekasihmu?" mendengar perkataan itu akupun sedikit terkejut dan bingung harus menjawab apa, karna aku belum boleh untuk berpacaran oleh kedua orangtuaku. Lantas aku pun menjawab dan memberi tahukan tentang masalah ini yg sesungguhnya kepada azrul, seketika azrul diam dan aku bisa merasakan apa yang dia rasakan, nampak dari raut wajahnya dan sorotan matanya kalau dia merasa kecewa.

Selang sehari kemudian akupun menghampirinya saat dia sedang ngobrol dengan teman-temannya, seketika itu juga teman-temannya ngerti dan pada menjauh untuk memberikan waktu kepadaku untuk ngobrol berdua dengan azrul. Aku meminta maaf kepadanya tentang kemarin dan aku menjelaskan kepadanya, kalau aku juga sayang kepadanya dan ingin terus bisa saling berhubungan dan komunikasi berbagi kisah dan cerita, saling mendengarkan keluh kesalku kepadanya, dan azrulpun menyetujui keinginanku tersebut sampai aku telah lulus sekolah dan aku melanjutkan untuk kuliah, namun azrul tak melanjutkan kuliah karna keterbatasan dana, maka dia mencari kerja dan mendaptkan pekerjaan menjadi buruh di salah satu pabrik yang terdapat di Jakarta namun hanya beberapa saat dan belum menetap.

Dua tahun setelah aku lulus SMA akupun berkomunikasi lagi dengan azrul karena kesibukan masing-masing dan keegoisan diriku, akupun berkomunikasi lagi dengan dia lewat facebook, dan sering bbman dengan nya dan kembali sering berbagi cerita bersama. Sampai suatu ketika dia bilang "Manda, aku betul-betul sayang sama kamu dan aku berani datang kerumahmu untuk meminta izin berhubungan denganmu", dan akupun bingung harus menjawab apa, aku hanya bisa bilang "Azrul maaf aku tak berani dengan kedua orang tuaku, akupun juga ingin terus bisa berhubungan dengan kamu, tapi.... tapi aku takut dan merasa gak bisa berbuat apa-apa". mendengar perkataan itu azrul pun mengerti dan coba untuk menjauhi ku, karna dia merasa tak mungkin ada kesempatan untuk bisa terus bersama denganku.

Sampai suatu hari setelah aku lulus kuliah dan orang tuaku menginginkan aku untuk menikah dengan lelaki pilihan mereka, aku tak dapat berkata apa-apa dan tak bisa untuk menolak mereka, karena aku ingin menjadi seorang anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya. Maka akupun meng iya kannya dan menuruti keinginan mereka untuk menikah dengan lelaki pilihan mereka, dia adalah seorang tentara yang bisa dikatakan sudah mapan dan mampu untuk membiayai kebutuhan keluargaku nantinya, namun umurku dengan nya terpaut sangat jauh, yaitu beda 6 tahun dengan calon pilihan orang tuaku yang ingin aku menikah dengan nya. Undanganpun telah dibuat dan disebar, dan aku jujur merasa belum siap untuk menikah, namun karna aku ingin membahagiakan orang tuaku dan tak ingin membuat mereka kecewa maka aku pun melaksanakan pernikahan tersebut. Hari itupun akhirnya datang, kini aku telah resmi menjadi seorang istri dari orang yang tak aku sayang, aku mencoba untuk sayang kepadanya namun tak pernah bisa aku rasakan seperti saat aku sayank kepada azrul.

Tamu-tamu undanganpun berdatangan dan semakin banyak saja, sampai aku melihat azrul dan teman-temannya datang memberi selamat kepadaku yang sebelumnya mereka telah ku undang untuk datang ke acara penikahan ku ini. Aku melihat kesedihan dibalik senyum yang diberikan azrul kepadaku, saat dia dan teman-temannya makan, akupun terus melihat dan memperhatikan azrul, dalam hati aku ingin menangis sekencang-kencangnya karna aku telah mengorbankan perasaanku sendiri untuk kedua orang tuaku, jujur aku sama sekali tak merasakan bahagia, dan kalaupun bahagia hanya ketika teman-temanku datang.
Pernikahanku dengan orang yang tak ku sayang ini kini telah berjalan 7 bulan, namun selama itu pula aku jarang merasakan bahagia, ku akui dia memang selalu memberikan barang-barang apa yang kuinginkan tak perduli harganya, namun semua itu tak bisa menggantikan perasaanku yang telah hancur berkeping-keping dan tak pernah bisa aku menyayanginya sebagaimana aku menyayangi azrul. Seorang tentara pastinya selalu ditugaskan keluar kota, maka tak jarang aku sering merasa kesepian.

Sampai detik ini aku masih berkomunikasi dengan azrul, namun kini dia tak begitu menanggapinya seperti saat aku sedang bersamanya dulu, aku berkeluh kesah kepadanya namun dia hanya berkata "sabar".
Dalam gelapnya malam dan dalam keheningan malam, aku menangis senangis-nangisnya banyak mengeluarkan air mata. Aku menangis karna aku telah mengorbankan perasaan ku untuk mereka, dalam hati aku berkata "ini bukan lah lagi zaman siti nurbaya" namun aku ingin melawan dan menolaknya namun aku tak kuasa untuk melakukan hal tersebut, aku hanya bisa menangis dan menangis ditengah gelapnya malam, terkadang aku berkata kepada Tuhan "ya Tuhan mengapa jalan hidupku seperti ini ? aku menikah dengan orang yang tak aku sayangi, materi bukanlah hal yang penting untuk ku, aku ingin bahagia bersama dengan orang yang selalu dapat membuatku bahagia walaupun dia tak mempunyai apa-apa untuk ku. Ya tuhan andaikan mungkin dulu aku berani dan berjuang bersama-sama dengan azrul untuk mempertahankan cinta ini, mungkin ini tak akan pernah terjadi. Ya Tuhan apakah kedua orang tuaku tak merasakan pederitaanku ini ?, yang nikah itu adalah aku bukan mereka, yang menjalani kehidupan setelah aku nikah itu adalah aku dengan suami pilihanku bukan mereka. Ya Tuhan tolonglah bantu aku, aku ingin kembali dan mengulang ke masa itu". Dalam gelapnya malam aku merintih menangis dan mencoba untuk membohongi perasaanku.

Senin, 24 Juni 2013

Aku Adalah Musuhku

Hari libur merupakan hari untuk bermalas-malasan untuk ku, kegiatanku saat itu adalah tidur, makan, lalu tidur lagi sampai aku tak sadar kalau karna hal itu sudah banyak kegiatan penting yang aku tiggalkan, kesempatan banyak yang ku sia-siakan hanya karna aku menuruti hawa nafsu ku untuk terus bermalas-malasan. Terkadang akupun sudah tau dampak dan akibat atas perbuatan malas yang aku perbuat tersebut, tapi aku tak memperdulikannya dan terus menikmati semua itu walau telah banyak kesempatan yang telah aku abaikan, aku hanya mementingkan diri sendiri dan keegoisan diri tanpa mementingkan keadaan sekitar ataupun orang disekitarnya. Tak jarang aku juga sering menyakiti perasaan oang lain hanya karna aku mengikuti hawa nafsu ku tersebut, orang tuaku yang membangunkan ku untuk mengajak makan saja aku sering lawan dan tak memperdulikan mereka karna aku masih ingin bermalas-malasan.

Tak jarang aku suka menyakiti perasaan orang lain yang tak aku sadari, terkadang saat aku telah membuat janji kepada sesorang, aku seketika pun membatalkannya hanya karna aku merasa capek atau malas untuk keluar, untuk membuat dia tidak begtu kesal denganku saat itu juga aku meminta maaf kepadanya dengan alasan yang lain supaya dia dapat memakluminya, sebenarnya aku hanya malas keluar, dan itulah jawaban yang sesungguhnya. Tak jarang pula aku melewatkan kesempatan baik atau rejeki hanya karna aku merasa ngantuk, aku pernah mendapatkan panggilan dari sebuah perusahaan untuk menawarkan kerja denganku, tapi karna aku mengikuti hawa nafsuku untuk tidur karna aku merasa sangat ngantu, maka aku tidur dan meninggalkan kesempatan tersebut, begitu aku terbangun aku merasa menyesal.
Dalam lingkungan sehari-haripun aku secara tak sadar telah banyak menyakiti perasaan orang lain. Saat sedang bersama-sama dengan seorang teman atau seseorang yang sedang dekat denganku, ketika dia menginginkan sesuatu setelah kesepakatan bersama-sama dengan yang lainnya namun tak sesuai dengan keinginanku, maka akupun merasa jengkel dan kesal kepada dia dan bersikap jutek dan membuat oranglain berfikir aku itu seperti anak kecil yang harus diturutin kemauannya.

Sejatinya aku tau apa yang telah aku lakukan, dampak dan akibatya aku telah tau, namun sulit bagiku untuk melawan rasa keinginan dalam diriku sendiri, amat sangat sulit menahan semua hawa nafsu ini. Aku ingin melawannya dan menghilangkannya, tapi lagi lagi aku selalu gagal, pernah ada seseorang yang amat sangat baik kepada ku, dan dia amat sangat sabar menghadapi aku, dan berusaha mengingatkanku untuk tidak seperti itu dan memberikan contoh untuk ku bagaimana caranya untuk dapat melawan hal tersebut, namun lagi lagi karna hawa nafsu ini akhirnya akupun membenci dan menyuruhnya untuk pergi. Tak jarang karna aku yang salah dan bukan dia yang salah tapi aku justru memarahinya. “Hawa nafsu” ini menggangguku, aku ingin keluar dari ini semua, aku inigin melawannya, aku ingin melawan hawa nafsu dari marahku, aku ingin melawan hawa nafsu dari keinginan-keinginan ku yang bersifat merugikan ku, aku ingin melawan semua hawa nafsuku ini. Tuhan tolonglah hambamu ini, aku ingin berubah, telah banyak kusia-siakan semua yang telah datang kepadaku hanya karna aku menuruti hawa nafsuku. Tuhan datangkanlah sesuatu untuk ku yang dapat membuatku berfikir dan berubah. “Aku adalah musuh terbesarku”

Senin, 17 Juni 2013

Tak Tampak tapi Ada

Mencintaimu itu adalah anugrah terindah untuk ku yang diberkan Tuhan, dan sebisa mungkin aku akan selalu menjaganya dan memupuknya sampai kapanpun karna aku hanya bisa mencintai satu orang wanita tak lebih. Denganmu ku rasakan banyak hal yang indah, denganmu ku lalui waktu-waktu ku dengan penuh kebahagiaan, denganmu ku banyak belajar tentang kehidupan, kita saling belajar satu sama lainnya, ketika kau tak tau, aku yang memberitahukanmu, dan ketika ku tak tau, kaulah yang memberitahukanku. Senyum mu adalah kekuatan untuk ku untuk bisa melalui hari-hariku yang cukup keras di tengah hiruk pikuk kehidupan di kota besar seperti Jakarta. Tawa, canda dan kebahagiaanmu adalah tujuan hidupku, aku akan melakukan hal apapun untuk dapat membuatmu tertawa lepas melupakan sejenak semua masalah-masalah yang sedang kau alalmi, aku akan selalu ada untukmu dimanapun engkau berada dan kapanpun engkau inginkan.
Mencintai dan memilikimu adalah kado terindah yang diberikan Tuhan untukku, engkaulah matahariku yang selalu menyinari hari-hariku, engkaulau sang bulan yang menuntun memberikan cahayanya kepadaku untuk menerangi setiap langkahku di tengah gelapnya malam. Aku mencintaimu melebihi aku mencintai diriku sendiri. Semua akan kulakukan hanya untuk membuatmu bahagia.
Aku sadar siapa aku ini, aku tak memperdulikan orang lain berkata apa kepadaku, yang aku pedulikan adalah bagaimana caraku untuk selalu menunjukan cintaku kepadamu, aku tak akan biarkan orang lain menyakitimu, tak akan pernah aku biarkan engkau menangis, air matamu sangat berharga dibanding diri ini.
Aku hanyalah makhluk yang tidak bermateri, dipandang sebelah mata tak punya reputasi oleh sebagian orang, namun hal itu bukan lah penghambat bagiku untuk mencapai kesuksesanku dimasa yang akan datang, akan kubuktikan bahwa aku mampu dan bisa, akan kubuat orang yang berfikiran seperti itu menjadi diam seribu bahasa ketika melihatku telah berhasil membuktikan kepada mereka. Aku berjanji bahwa aku akan selalu membuatmu bahagia bagaimanapun caranya.
Jarak dan waktu tak mampu menghentikan langkah kaki ini untuk slalu ada dan slalu berusaha untuk membahagiakan mu, kusadari aku semakin jauh darimu karna kesibukanku yang harus kulakukan setiap harinya di perusahaan yang terdapat di daerah jakarta, walaupun aku tak terlihat olehmu untuk selalu bisa menjaga dan menuntunmu menemani setiap langkahmu, sesungguhnya aku adalah selalu dekat denganmu. Kemanapun kau pergi dan melangkahkan kakimu disetiap tempat, aku selalu ada didekatmu. Doaku yang akan selalu memelukmu yang membuat kau merasa tak sendiri. Ketika kau ada dipersimpangan jalan dan kau tak tau harus mengambil jalan mana, maka aku ada disitu sebagai penunjuk jalanmu. Ketika malam dingin yang mencekam dan kau merasa sendiri, maka disitulah aku menjadi bulan dan bintang-bintang malam yang menghiasi malm mu agar kau bahagia. Ketika malam sepi membuatmu merasa jenuh diruanganmu maka aku ada disitu menjadi bonekamu yang sanggup mendengarkan keluh kesahmu dan berbagi cerita. Ketika kau merasa tak nyaman dengan suatu keadaan dan takut karenanya, sesungguhnya aku ada di hatimu yang membuatmu berani melangkah kedepan menghadang semua cobaan yang menghadapi. Ketika sembahyangmu merasa begitu sepi dan engkau mencoba untuk mengaji membaca Al-qur'an, sesungguhnya akulah ayat-ayat itu yang sedang menemani sembahyang dan ngajimu. Ketika kau merasa tak sanggup menghadapi semua cobaan yang kau hadapi, disitulah sesungguhnya aku sedang menjadi cobaan yang sedang kau hadapi itu untuk selalu menemanimu dan menjadikan mu lebih kuat lagi. Ketika tak ada satu orangpun yang mau mendengarkanmu, sesungguhnya akulah yang hadir untuk mendengarkan semuanya sebagai angin yang selalu berhembus bersama dengan nafasmu. Ketika kau takut untuk berjalan mengambil keputusan, sesungguhnya aku selalu ada dan hadir untuk membantumu melangkah dan mengambil keputusan dengan menjadi alas kakimu. Aku akan selalu ada kemanapun dan dimanapun kau berada, kau hanya perlu percaya padaku dan merasakannya. Aku tak akan pernah membiarkanmu merasa sendiri walaupun jiwaku tak mampu untuk selalu hadir menemani setiap langkahmu, namun sesungguhnya aku selalu ada didekatmu menemanimu, mendampingimu, menuntunmu, dan selalu memlukmu dengan semua doa- doa yang selalu kupanjatkan setiap malamnya. Aku tak tampak olehmu bukan berarti aku tak ada dan membiarkanmu sendiri dalam setiap langkah kakimu, sesungguhnya aku ada didekatmua walau aku tak tampak. Ku titipkan selalu do'a ku untukmu bersama semua air mata yang pernah mengalir membasahi pipiku.

Rabu, 29 Mei 2013

Mau ngikutin Emosi ?

Apa yang dilakukan hari ini akan menghasilkan di esok harinya, mungkin kata yang tepat adalah hubungan sebab akibat, jika melakukan ini maka hasilnya akan seperti itu. Ato istilah yang mungkin keren saat ini adalah "karma", tapi itu adalah kata yang kasar, halusnya adalah "Tanam Tuai". Terkadang saat ingin melakukan sesuatu selalu aja terlintas "kalo ngelakuin ini ntar hasilnya ini", bahkan sudah tau jika hasilnya itu jelek tp mash aja tetep dilakukan, ya namanya juga manusia pasti adalah rasa egois dan rasa ingin mendapatkan apa yang diinginkan walaupun hasilnya nanti jelek. Manusia hidup didunia ini tidak sendiri, mereka saling membutuhkan satu sama lainnya, saat sedang berhubungan dengan orang lain atau berinteraksi dengan orang lain adakalanya manusia itu tak sadar jika ucapan atau perbuatannya itu suka menyakiti perasaan orang lain, terlebih saat mereka sedang marah atau emosi, yang ada dikepala adalah bagaimana caranya untuk bisa meluapkan emosi itu dari dalam tubuh sehingga bisa membuat plong lagi setelah emosi. Namun tak semua orang seperti itu, ada pula yang ketika emosi dia hanya diam saja tak memperdulikan orang sekitarnya tapi tetap aja sama-sama ikutin emosi juga yang ujung-ujungnya nanti cuman nyesel. banyak orang yang berkata ketika mereka sedang emosi kepada orng lain dan meluapkan emosi tersebut kepada orang itu berkata "looh kenapa bisa nyesel klo ikutin emosi ? saya merasa fine-fine aja kok malah lebih plong". Banyak orang yang tak sadar ketika mereka emosi atau marah kpda orang lain dan meluapkan kemarahannya kepada orang tersebut, sesunghnya dia telah membuat kesalahan dan telah menyakiti perasaan orang tersebut dan membuang waktu percuma. ambil contoh saja dengan orang yang berpacaran yang malam harinya ingin pergi keluar untuk makan malam bersama, ketika salah satu dari mereka itu marah atau sedang kesal terhadap pasangannya karna satu kasus seperti, si wanita menghubungi si pria tapi ternyata tidak juga diangkat-angkat oleh pria tersebut sampe berkali-kali. sang pria pun jg tak ada kabarnya, maka si wanita inipun akhirnya marah kepada si pria ketika si pria membeikan kabar kepadanya. Si wanita lantas mengomel-omelinya bahkan itu nama hewan yang ada di kebun binatang keluar semua, namun si pria ini mencoba untuk memberikan alasannya knpa tadi seperti itu, namun si wanita tak mau tau dan tetap marah kepada sang pria ini. Lantas pria inipun meminta maaf karna emang dia udah buat sang wanita marah walaupun sebenarnya masalahnya hanya kecil dan kronologinyapun jelas. Karna si wanita ini terbawa emosi oleh amarahnya dan mengikuti emosi tersebut, maka akhirnya si wanitapun membatalkan acara perginya dimalm hari bersama pacarnya ini.

Keesokan harinya si pria ini mencoba untuk mengabarinya dan menanyakan "apakah kamu mash marah sma aku ?" si wanita pun menjawab "aku udah mendingan kok". selang beberapa saat mereka berkomunikasi, si pria menjelaskan sesuatu kepada wanitanya bahwa sebenarnya jika tadi malam kita jadi pergi makan bersama, aku udah menyiapkan sesuatu untuk kamu, aku telah meyewa tempat itu untuk satu malm hany untuk kita berdua agar terasa lebih romantis, dan aku juga telah membawakan bunga mawar putih kesukaan kamu beserta makanan kesukaan kamu, aku minta sama pemilik tempat makan untuk mendekornya yang bagus agar terlihat romantis, namun semua itu jadi sia-sia karna kamu membatalkan dengan lantang dan tegas acara makan malam kita. Lantas si wanita itu pun menangis dan menyesal karna udah marah-marah dan gak mau memperdulikan perkataan si pria. Kini yang ada pada si wanita adalah penyesalan, jika ia tidak mengikuti emosinya maka malam itu akan jadi malam yang paling indah.
Emosi atau rasa marah hanya akan membuat orang merasa bersalah, jika orang tersebut berfikir dan menyadari kesalahannya. Masih banyak dikehidupan sehari-hari yang karna mengikuti emosinya maka ujung-ujungnya cuman nyesel. Selain itu emosi pun cuman bisa membuat orang merasa lebih cape.

Selasa, 14 Mei 2013

A Life

Mentari di ufuk barat terlihat sangat memukau. Orang kesana-kemari sibuk beraktifitas seperti biasanya, di ujung jalan dekat halte terdapat orang yang menunggu kendaraan umum untuk pergi berangkat kerja, teriakan tukang koran terdengar di segala penjuru untuk menjajakan jualan korannya berharap dagangannya laku keras hari ini. Orang-orang diluar sana sibuk pergi bekerja utnuk mencari kehidupan yang lebih baik lagi di kehidupan mendatangnya. Terkadang terbesit selintas pikiran "kok aku tak dapat seperti mereka diluar sana, yang memiliki harta yang melimpah, mobil lebih dari satu, rumah ada dimana-mana". Aku disini hanyalah seorang yang selalu saja mencoba untuk mencari keberhasilan disuatu tempat, namun Tuhan belum berkehendak untuk menjadikan aku orang yang sukses ditempat yang aku inginkan tersebut. Beribu kali aku telah ikuti semua test dan segala macamnya, namun samapai saat ini tak ada satupun yang berhasil. Aku pun juga manusia yang meiliki sifat jenuh. Tak jarang aku merasa sedih dan berfikiran "kenapa aku tak pernah berhasil dalam setap tes yang aku hadapi ? apa salahku sampai semua yang kuinginkan itu tak pernah bisa kudapatkan ?".
Dibalik jendela kamar yang sudah kusam kelihatannya karna dimakan usia, aku merenung dan tak bersemangat memandang keluar jendela yang didepannya terdapat 2 ekor kucing yang sedang bermain satu sama lainnya. mereka kelihatan begtu bahagia dan bersemangat walaupun mereka saling kejar-kejaran satu sama lainya. Ke dua kucing itu terlihat sangat kurus karna tak pernah diberi makan, bahkan terkadang mereka berdua untuk becanda saja susah karna saking laparnya. Namun ke dua kucing itu tak memperulikan itu, mereka tetap asik bermain walaupun mereka kelaparan dan kecapean akibat bermain tersebut.
Aku kembali melamun sambil membuka dan bermain handphone mengecek apakah ada pesan yg masuk ke handphone ku ini,namun ternayata tak kunjung ada pesan juga, handphone inin begtu sepi seperti aku merasakan sepinya hidup. Telah berulang kali aku mencoba untuk melihat apakah sekiranya ada tempat yang bisa kudatangi untuk menjadikanku seorang yang sukses.
Aku dibesarkan dikeluarga yang meiliki ketaatan sangat kuat, aku tak boleh keluar malam lebih dari jam 9 malam. Saking  kuatnya ketaatan dan peraturan yang diberlakukan oleh orang tuaku, sampai-sampai pernah suatu hari aku pergi bersama dengan kawan-kawan dan pulng sedikit larut, dan aku mengajak kawan-kawan ku tersebut untuk mampir sejenak dirumahku untuk kusuguhkan air. Namun yang tak terduga terjadi, ayahku keluarrumah dan melihat aku dan kawan-kwanku lau ayahku menampar mereka satu persatu karna pergi larut malam denganku. Sungguh tak enak hati aku terhadap kawan-kawanku tersebut, berniat baik justru mendapatkan hasil yang tidak baik. Keesokan harinya aku langsung meminta maaf kepada kwan-kawanku atas kejadian malm tadi.
Hari berganti hari tak sadar jika aku sudah cukup lama seperti ini, aku merasakan begtu sepi, orang yang dulu selalu ada untuk menemani hari-hariku kini telah pergi. Sebisa mungkin aku untuk selalu tersenyum didepan keluarga ku terutama kedua orang tuaku, mereka mencoba unutk membuatku bahagia dengan cara mereka sendiri, aku tau yang mereka lakukan ini adalah untuk kebaikanku, tapi apakah mereka merasa bahwa aku ini sedih ?. "Tidak" mereka sepertinya tidak merasakan apa yang kurasa. Kebahagian yang mereka berikan tak sanggup mengusir rasa sedih dan sepi yang tertanam pada diri ini. Namun aku hanyalah anak yang mencoba untuk berbakti kepada kedua orangtua dan nurut kepada mereka, dalam hati kecilku ku ingin berteriak di depan mereka dan megatakan semua apa yang kurasa, namun aku tak mempunyai cukup keberanian untuk melakukan itu. Aku ini adalah tipe orang yang kalem dan pendiam, dan selalu menyembunyikan masalah atau apapun yang sedang terjadi agar orang lain tidak mengetahuinya. Siang malam aku selalu berdoa kepada Tuhan " kapankah aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan ?" "kenapa orang tuaku tidak pernah mau dan bisa untuk mengerti aku Tuhan ?". Terkadang aku ingin menangis atas apa yang kualami ini, mereka tak pernah bisa merasakan apa yang kurasa, mereka terlalu banyak nuntut ini itu.
Kini aku hanya bisa berharap kepada Tuhan untuk dapat merubah ini semua, satuhal yang kuyakini bahawa Tuhan tidak akan memberikan kesusahan melebihi batas kemampuan hambanya.