Waktu
menunjukan pukul 04.30 dini hari, sudah saatnya aku untuk bangun dan melakukan
sholat shubuh. Tubuhku yang kering kerontang ini, dan juga sudah mulai tidak
kuat untuk berdiri lama akibat penyakit yang aku alami sejak dulu, tak
menghalangiku untuk bersemangat mencari rezeki yang disiapkan dan diberikan
Tuhan kepada semua hamba-hambanya disetiap harinya.
Pukul
05.00 pagi dini hari selesai sholat shubuh, aku mempersiapkan segala sesuatunya
yang biasanya aku lakukan setiap harinya. Aku mempersiapkan hasil kebunku untuk
dijual kepada orang-orang yang barangkali menginginkannya.
Aku
memiliki kebun sendiri walaupun tak cukup luas dan besar namun dari kebun itu
dapat menghasilkan beberapa lembar rupiah untuk keperluan hidupku setiap
harinya.
Aku
tak ingin dan tak bisa untuk berdiam diri dan berpangku tangan seharian tanpa
melakukan apapun. Aku tinggal di daerah perkampungan yang kumuh namun
masyarakatnya disana sungguh memiliki sikap kekeluargaan, sehingga antara satu
dengan yang lainnya sudah sama-sama dekat sudah seperti keluarga sendiri,
walaupun aku hidup disebuah gubuk yang aku anggap rumah, dan aku hidup sendirian
tanpa teman yang dapat menemaniku, jika kuingin mengobrol maka aku keluar rumah
untuk ngobrol-ngobrol dengan tetangga-tetanggaku disekitarnya.
Waktu
menunjukan pukul 05.30 sudah saatnya aku untuk bersiap-siap berjualan hasil
kebunku yang ingin kujual kepada orang-orang yang membutuhkan, hasil kebun
seperti pisang, rambutan, dan juga terkadang sayur mayur aku kumpulkan dalam
sebuah wadah yang nantinya aku akan masukan kedalam sebuah tempat yang terbuat
dari kayu untuk kusatukan semuanya dan kemudian dari wadah kayu tersebut aku
sangkutkan dengan sebatang bambu untuk membopongnya, karna daganganku ini aku
pikul.
Walaupun
aku sudah tak seperti dulu lagi dan sekarang sudah mulai sakit-sakitan, tapi
rasa itu semua tak akan kubiarkan mengalahkan semangatku untuk mencari nafkah.
Dipagi hari yang cerah aku selalu berharap kepada Tuhan agar daganganku ada
yang terjual walaupun hanya satu. Kupikulnya daganganku menuju tempat yang
biasa aku jadikan tempat untuk berjualan, aku berjualan didepan sebuah rumah
yang memiliki toko, karna ku tau toko itu bukanya sedikit rada siang maka aku
ambil kesempatan untuk berjualan di situ yang sebelumnya aku telah meminta izin
kepada sang pemeilik rumah, karna jika aku berjualan ditempat lain, aku harus
membayar biaya sewa tempat setiap harinya. Aku berjualan di komplek perumahan
dan berlokasi di sekitar depan kompleknya, jadi pada saat pagi hari, siapa saja
yang melewati tempat itu, maka akan melihatku juga.
Sesampainya
disana aku membersihkan tempatnya agar nampak terlihat sedikit bersih, aku
membersihkan halaman tempat aku berjualan dengan daun pisan kering yang menempel
pada pisang daganganku. Kebanyakan mereka yang membeli daganganku adalah mereka
yang merasa iba dan kasihan kepadaku, walaupun sebenarnya aku paling tidak suka
dikasihani tapi aku membutuhkan uang nntuk biaya hidupku setiap harinya. Mereka
iba kepadaku karena aku ini merupakan seorang laki-laki tua paruh baya yang
sudah berusia lebih dari setengah abad, badanku pun kurus kering dan kelihatan
sakit-sakitan, jalanku saja tidak lagi tegap seperti yang lainnya, aku berjalan
bungkuk karna sebuah faktor yang dinamakan “fakor u” yaitu faktor usia.
Tak
jarang aku melihat anak-anak seusia di bangku sekolah menengah hilir mudik
untuk berangkat sekolah setiap hariya, setiap aku melihat mereka, aku selalu
membayangkan wajah cucuku, mungkin dia akan terlihat sama seperti anak-anak sekolah
lainnya jika dia masih berada disini
bersama dengan anak-anakku. Anak-anakku pergi meninggalkanku karna kini mereka
semua telah bekerja dan tinggal menetap di dekat tempat kerjanya, dan ada pula
yang ikut suaminya dan pulang ketika lebaran, sedangkan istriku sendiri, telah
pergi meninggalkan ku karna dipanggil sang maha pencipta menghadap kepadanya,
beliau pergi ketika kami sedang mengadakan sholat shubuh berjamaah, ketika
sujud terakhir, beliau tidak bangun lagi, selepas ku selesai sholat aku
memanggil namanya dengan lembut dan menyentuhnya, namun ketika aku
menyentuhnya, tubuhnya lemas tak berdaya da terjatuh kesamping, seketika itu
juga aku menyadari bahwa beliau telah tiada. Tak terasa air mata membasahi
pipiku mengalir sangat deras, namun aku bahagia karna beliau dipanggil sang
maha kuasa ketika sedang bersujud menghadap kepadanya.
Anak-anak
ku menyuruhku untuk ikut dengan salah satu dari mereka agar aku ada yang
megurusnya dan agar aku tak sendiri, sering kali mereka menawarkan rumah baru
yang lebih baik lagi untuk tempat aku tinggal, namun aku menolaknya. Aku lebih
suka untuk tinggal dan menetap di gubuk tua yang aku punya ini menghabiskan
sisa umurku bersama dengan teman-teman sebayaku dan tetangga-tetanggaku yang
sudah kuanggap seperti keluarga sendiri.
Aku
berjualan hasil kebunku ini tidak setiap hari hanya ketika hasil kebunku berbah
saja, dan ketika hasil kebunku tak berbuah dan tak ada yang bisa untuk kujual,
maka aku membuat sapu lidi dari daun kelapa yang diambil batangnya lalu
kukeringkan dan aku jual. Tidak setiap
harinya, dagangan yang aku jual dan tawarkan itu laku satupun, maka keesokan
harinya aku kembali menjualnya lagi selagi masih bisa dijual dan belum busuk. Disetiap
pagi yang kulalui dengan berjualan hasil kebunku, aku selalu berharap dan
berdoa agar aku dapat disatukan kembali dengan istriku di akhirat nanti. Inilah
aku seorang kakek-kakek tua paruh baya yang umurnya sudah hampir satu abad yang
tak kenal lelah untuk bekerja dan mencari uang untuk kebutuhan hidupku,
walaupun hanya kulit yang melapisi badanku ini dan dengan keadaan yang
sakit-sakitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar