Senin, 09 Januari 2012

Istighfar dan Wiper

Ketika hujan turun, kaca mobil kita akan terbasahi dengan butiran-butiran air hujan yang jumlahnya mungkin jutaan. Dengan jutaan butiran air hujan itu kaca mobil kita menjadi buram, pandangan mata kita ke jalan jadi kabur. Namun demikian, kita pun secara refleks memegang tuas atau tombol penggerak wiper. Semakin deras hujan maka akan kita stel wiper dengan kecepatan yang lebih tinggi. Dengan wiper, maka guyuran butiran air hujan pun dapat tersapu dan tersingkirkan dari kaca mobil, sehingga kita pun dapat melihat jalan di depan kita. Jalan yang tadinya terlihat buram, sedikit dapat terlihat, sehingga kita pun dapat menjalankan mobil dengan baik.

Begitu juga dengan istigfar. Istighfar dapat membersihkan dosa-dosa kita dan sekaligus juga kita bisa menatap masa depan dengan lebih terang dan tenang, sehingga mempengaruhi cara berpikir kita. Semakin banyak beristigfar maka semakin bersihlah diri kita, sehingga kita pun semakin luas pandangan ke depan.

Rasulullah SAW saja, manusia suci yang sudah dijamin masuk surga beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari [1]

Bisa bayangkan kalau wiper itu tidak kita nyalakan. Tentunya mata kita tidak bisa melihat jalan ke depan dengan jelas karena terhalang oleh butiran air hujan. Begitu pula dengan istigfar. Bagaimana kalau seandainya istigfar tidak pernah kita kerjakan, maka tentunya makin tertutuplah mata hati kita. Semakin kita lupa istigfar, maka semakin bertumpuklah dosa-dosa kita. Dan yang lebih dari itu adalah pandangan kita semakin tertutup oleh nafsu kita sendiri. Sehingga kadang-kadang kita pun susah berpikir dengan jernih. Dengan tidak kita nyalakan wiper, sementara mobil tetap kita jalankan maka besar kemungkinan kita akan menabrak semua yang ada di depan dan di kanan kiri jalan. Pohon-pohon akan tertabrak, begitu juga warung-warung di pinggir jalan, ataupun pengguna jalan yang lain pun bisa tertabrak. Singkatnya, orang lain di pinggir jalan yang tidak bersalah bisa kena getahnya dengan ulah kita itu. Bisa banyak korban berjatuhan karena kesalahan kita.

Maka sungguh beruntung orang-orang yang senantiasa gemar beristighfar, karena dengan istighfar Allah SWT akan memberi ampunan terhadap dosa dan kesalahan kita.

Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.4.110)

Begitulah istigfar dan wiper, keduanya sama-sama membersihkan. Semoga Allah SWT selalu menjadikan kita sebagai hamba yang gemar beristighfar. Amin..

Diambil dari sebuah artikel dari http://indonesian.iloveallaah.com/istighfar-dan-wiper/

Manisnya Hidup

Sebuah kisah yang ditulis oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam kitabnya, At Tawwabin. Kitab At Tawwabin berisikan kisah orang-orang yang bertaubat, kembali kepada Allah SWT, di antaranya adalah kisah taubatnya Malik bin Dinar yang akan aku ceritakan pada tulisan ini.

Walaupun dia seorang muslim, masa lalu Malik bin Dinar jauh dari Allah SWT. Saat itu, kehidupan Malik bin Dinar penuh dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zhalim kepada manusia, dan lain sebagainya. Tidak ada satu maksiat melainkan dia telah melakukannya.

Suatu saat Malik bin Dinar melihat seorang anak perempuan berusia sekitar 3 atau 4 tahun. Malik bin Dinar merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat gadis kecil tersebut. Gadis kecil tersebut sangat manis dan indah dipandang. Melihat gadis kecil itu membuat Malik bin Dinar pun keinginan untuk memiliki anak. Sehingga Malik bin Dinar pun menikah.

Subhanallah, atas rahmat-Nya, Malik bin Dinar pun Allah SWT karuniakan seorang anak perempuan yang kemudian diberi nama Fathimah. Beliau sangat mencintai Fathimah. Setiap kali Fathimah bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hati Malik bin Dinar, dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku. Beliau mendekatkan diri kepada Allah SWT selangkah demi selangkah dan mulai menjauhi maksiat sedikit demi sedikit. Hidup Malik bin Dinar berubah menjadi lebih baik.

Malik bin Dinar merasakan adanya harapan baru dalam hidupnya dengan keberadaan Fathimah. Namun ternyata Allah SWT berkehendak lain. Ketika genap tiga tahun, Fathimah sakit, dan semakin parah. Allah SWT pun memanggil Fathimah ke sisi-Nya. Fathimah meninggal dunia.

Malik bin Dinar tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Maka Malik bin Dinar pun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Beliau belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkan di atas cobaan musibah.

Maka Malik bin Dinar bertekad untuk mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Malik bin Dinar mabuk-mabukan dengan mabuk yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya hingga beliau tidak sadarkan diri dan beliau pun tertidur.

Saat tidur beliau bermimpi. Di alam mimpi tersebut Malik bin Dinar berada pada hari kiamat. Sangat menakutkan! Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumi pun telah berguncang. Manusia pun dibangkitkan dan dikumpulkan. Malik bin Dinar mendengar malaikat memanggil nama dari setiap orang untuk menghadap Al Jabbar. Kemudian beliau mendengar malaikat memanggil nama beliau dan berkata, “Mari menghadap Al Jabbar!” Beliau sangat ketakutan. Tiba-tiba manusia-manusia di sekitar beliau menghilang, hanya beliau seorang diri di Mahsyar.

Kemudian Malik bin Dinar melihat seekor ular besar datang ke arahnya dengan membuka mulutnya. Beliau pun lari karena sangat ketakutan. Lalu beliau mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Malik bin Dinar pun berkata, “Orang tua, selamatkanlah aku dari ular ini!” Orang tua tersebut menjawab, “Aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah gunung sana, mudah-mudahan engkau selamat!”

Malik bin Dinar pun terus berlari menuju gunung tersebut. Kemudian beliau melihat di atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil dan beliau mendengar semua anak tersebut berteriak, “Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu!”

Malik bin Dinar mengenali bahwa dia adalah Fathimah, putrinya. Maka Fathimah pun menghampiri Malik bin Dinar dan kemudian Fathimah mengusir ular dengan tangannya.

Malik bin Dinar bertanya kepada Fathimah, “Apa yang terjadi, wahai Anakku?” Fathimah berkata kepada Malik bin Dinar, “Ayah, apakah engkau tidak mengetahui bahwa perbuatan kita di dunia akan hadir di hari kiamat dalam bentuk fisik yang nyata?”

“… Wawajadu maa ‘amilu haadhiraa …”

“… Mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan hadir di hadapan mereka…” (QS Al Kahfi: 49)

“Ayah, ular itu adalah amal burukmu, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalihmu, engkau telah melemahkannya hingga dia tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisimu.”

“Ayah, belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’, menundukkan hati mengingat Allah mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan?”

“Alam ya’ninil ladzina amanu an takhsya’a qulubuhum li dzikrillah wa ma nazala minal haq…”

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’, menundukkan hati mereka mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka…” (QS Al Hadid: 16)

Malik bin Dinar pun terbangun dari tidurnya dan berteriak, “Wahai Rabbku, sudah saatnya, sudah datang waktunya, wahai Rabbku!” Lantas beliau berwudhu dan pergi ke masjid untuk shalat subuh.

Di dalam shalat subuh, ternyata imam membaca ayat yang sama,

“Alam ya’ninil ladzina amanu an takhsya’a qulubuhum li dzikrillah wa ma nazala minal haq…”

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’, menundukkan hati mereka mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka…” (QS Al Hadid: 16)

Sejak saat itu Malik bin Dinar menjadi seorang shalih dari kalangan tabi’in. Malik bin Dinar sering mengatakan, “Kasihan orang-orang di dunia ini, yaitu mereka yang hidup di dunia ini tapi tidak merasakan sesuatu yang paling manis dalam hidup ini.”

Apa sesuatu yang paling manis dalam hidup ini? Malik bin Dinar mengatakan, “Senantiasa mengingat Allah dan mematuhi-Nya.

Di ambil dari sebuah artikel dari http://indonesian.iloveallaah.com/manisnya-hidup/”