Waktu menunjukan
pukul 2 pagi, pagi-pagi buta aku sudah harus bangun untuk mempersiapkan semua
keperluan yang setiap harinya aku lakukan, ketika semua orang masih tertidur
pulas, aku sudah harus bangun untuk mempersiapkan bahan-bahan yang harus aku
olah untuk kujadikan makanan yang akan ku jual paginya. Setiap paginya aku
harus membersihkan butiran-butiran kedelai yang akan ku olah untuk kujadikan
tempe, selain itu aku juga harus mempersiapkan bahan-bahan untuk pembuatan
bakso, karna selain aku menjual tempe aku juga menjual bakso. Selepas adzan
shubuh aku memasak bahan-bahan yang akan kujadikan bakso, semua itu aku buat
setengah matang dulu kecuali tempe karna tempe ini pada pagi harinya harus aku
setorkan kepada pelanggan-pelanggan tetapku sebelum aku berangkat kuliah, karna pada pagi harinya sampai siang hari aku
harus mengikuti perkuliahan seperti teman-temanku yang lainnya, usai dari
perkuliahan aku langsung kembali ke kontrakan yang aku sewa bersama dengan
teman-teman yang lainnya untuk ku persiapkan semua dagangan ku. Setiap harinya
aku berjualan bakso didekat kampus karna disanalah kiranya tempat yang tepat
untuk aku berdagang, jika aku sedang tidak bisa untuk berjualan bakso karna
jadwal kuliahku, maka aku menyuruh temanku untuk berdagang sementara sampai aku
selesai kuliah dengan memberikan sedikit upah kepadanya, namun dia tak pernah
mau untuk menerima pemberianku ini karna mereka tau bagaimana kondisiku, mereka
semua membantuku dengan ikhlas. Alhamdulillah walaupun tidak sepi tapi warung
bakso ku setiap harinya ada saja yang membelinya, dan karena cara penyajianku
yang menyenangkan pelanggan dan mereka semua mengatakan kalo bakso yang kujual
ini rasanya enak, maka tak jarang juga daganganku ini ada yang memesannya untuk
acara pernikahan dan hajatan bagi pelanggan-pelanggan ku. Semua ini aku lakukan
agar aku dapat mencukupi kebutuhan ku sendiri dan membiayai adik-adikku di kampung
halaman.
Aku adalah seorang
mahasiswa jurusan ekonomi penjual bakso dan tempe yang Alhamdulillah masih
dapat berkuliah di salah satu Universitas ternama di Indonesia. Aku bukanlah
orang yang mampu seperti teman-teman kuliahku, aku masuk Universitas disini
karena beasiswa yang aku dapatkan saat aku mencoba tes masuk di sini. Aku
merupakan anak tertua dari ke empat adik-adik ku yang saat ini adikku yang
paling besar juga sedang berkuliah
disalah satu Universitas ternama di kampungku, adikku yang ke dua dia saat ini
sedang mengambil kejurusan dari mata pelajaran yang dia iniginkan, dia
mengambil jurusan kumunikasi yang sebentar lagi selesai dan akan lulus,
sedangkan adikku yang paling kecil dia saat ini sdang duduk di bangku sekolah
dasar dan terakhir aku melihat dia adalah ketika dia masih kecil, semua adik ku
adalah perempuan dan mereka semua cantik-cantik seperti bintang film yang
berada di TV, kampungku berada di Kabupaten Sragen Jawa Tengah, dan aku hidup
di kota besar seperti Jakarta ini membuatku harus benar-benar memutar otak
untuk dapat menghasilkan uang tambahan untuk tambahan biaya kuliahku dan biaya
aku menginap disini, untuk saat ini aku hanya mampu menyewa sebuah kontrakan
yang berisi 4 kamar yang di isi oleh aku dan teman-temanku. Karena kami tinggal
dalam satu atap maka kedekatan kami pun seperti keluarga, dan yang paling tua
di antara teman-temanku adalah aku, dan akulah disana yang menjadi imam dari
orang-orang yang berada satu atap denganku.
Sudah hampir delapan
tahun aku berada di ibukota Jakarta tanpa pernah kembali pulang untuk bertemu
keluargaku, bukannya aku tak mampu untuk mengikuti pelajaran yang diberikan
oleh semua dosen-dosenku, dan bukan pula aku tak ingin kembali pulang bertemu
dengan keluarga tercintaku yang sudah mengharapkanku untuk kembali pulang
menyelesaikan kuliahku, namun aku begini karna aku disini mencari uang untuk
kukirimkan ke kampung halamanku dan untuk biaya hidupku sendiri. Tak ada kata
libur dalam kamus hidupku, selagi aku masih kuat dan mampu untuk bekerja, belajar,
dan mencari uang mencari uang, maka itu semua akan kulakukan untuk membuatku
keluarga ku bahagia dan bangga. Terkadang aku iri melihat teman-teman sebayaku
yang sedang bermain bersama dengan yang lainnya, tak jarang juga aku ingin
seperti teman-temanku yang sekarang sudah lulus kuliah, bekerja, dan mempunyai
seorang istri, aku ingin meminang wanita yang aku cintai dan ingin kujadikan
istri, namun aku sadar siapa aku ini, aku hanyalah seorang penjual bakso dan
tempe yang tak bisa mendapatkan keinginan seperti yang ku mau tersebut, mana
ada seorang wanita dizaman sekarang yang mau dengan seorang penjual tempe yang
tidak mempunyai apa-apa ?, mana ada orangtua yang mau anaknya dinikahi oleh
seorang penjual tempe seperti aku ini di zaman sekarang ini ? para orangtua
pastinya menginginkan anaknya mendapatkan suami yang sudah jelas pekerjaanya
dan netap penghasilannya, bukan seperti aku ini yang pekerjaannya hanya menjual
bakso dan tempe dan penghasilan yang aku dapatkan perbulanpun tidak menetap
seperti orang-orang yang bekerja di perkantoran, terlebih aku sampai saat ini
belum kelar juga kuliahnya, aku hanya bisa bermimpi mendapatkan seoarang putri
raja yang mau kujadikan istri.
Disela-sela waktu istirahatku,
tak pernah aku lewatkan untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang menciptakanku,
yang membuat aku dapat sampai seperti sekarang ini berkat semua rizki dan kemurahannya.
Dalam sujud aku selalu meminta dan memohon kepada-Nya untuk selalu memberikan
perlindungannya kepada keluargaku di Sragen, Jawa Tengah. Air mata rindu ini
selalu membasahi pipi ketika ku rindu kepada sosok Ayahku yang kini telah hidup
dengan tenang di alam sana, setiap malamnya selalu ku kirimkan do’a untuk
beliau disana, aku dapat seperti sekarang ini berkat didikan beliau, beliau
selalu membekaliku dengan agama-agama, pesan beliau sebelum pergi adalah “Ndo,Le, papa ndak bisa mewariskan harta
kepada kalian karena papa bukanlah orang kaya, dan papa takutkan karna harta
itulah kalian nanti justru saling bermusuhan, warisan yang dapat papa berikan
ke kalian adalah ilmu, karena seseorang tanpa ilmu seperti orang yang berjalan
tanpa tujuan, karena dengan ilmulah nanti yang akan membawa kalian kedalam
kesuksessan”. Setiap malamnya yang ada dalam benak kepalaku sebelum aku
tidur memejamkan mata, adalah bu’e, tawa dan senyumnya yang selalu menguatkan
kehidupanku, aku teramat sangat rindu dengan Bu’e, rindu masakannya yang selalu
saja bisa membuatku mengatakan “waah.... bu’e ini, masakannya selalu saja enak,
padahal yaa cuman ikan sama sambal tok, masakan di restoran kalah iki bu’e”,
karna disini aku setiap harinya hanya membeli lauk jadi di warung makan sebelah
kontrakan ku, dan kalaupun masak, aku hanya bisa masak telor.
Kini akulah yang
menjadi tulang punggung keluargaku, walaupun kini adik ku yang paling besar
kini sudah mampu menghasilkan uang sendiri dari karya-karyanya, dia suka sekali
menggambar dan membuat beberapa design, dan karena keahlian dan hobinya itulah
kini dia telah mampu mencari uang sendiri membantu meringankan beban kebutuhan
keluarga. Hari libur aku kupergunakan untuk mencari rizki lebih banyak lagi,
tak hanya aku menjual bakso saja pada saat hari weekend, tetapi aku juga mulai
menjual rokok dan pulsa untuk tambah-tambahan. Setiap bulannya aku kirimkan
beberapa ratus ribu kepada keluargaku di kampung. Tak jarang bu’e bertanya
kepadaku “kapan bu’e bisa menimang cucu seperti orangtua yang lainnya?”, dengan
lembut aku menjawab pertanyaan bu’e “Insya allah bu’e secepatnya, mohon do’anya
saja bu’e”, mendengar perkataan bu’e ini aku semakin sedih, karena sempat aku
jatuh cinta kepada seorang wanita yang begitu anggun dan baik paras dan tingkah
lakunya, namun karena realita kehidupan maka ku urungkan niat untuk melamarnya
karna wanita itu merupakan anak dari seorang yang bisa dikatakan tinggi
tingkatan derajat dan martabatnya dan sedang mengambil S2 di Universitas yang
sama denganku. Aku mengetahui hal ini dari pakde ku yang kebetulan kenal dengan
wanita tersebut, mendengar aku ingin melamarnya walaupun aku belum pernah
sempat dekat dengan wanita tersebut, lantas pakde ku pun berkata “ Le.. mbo ya
kamu sadar, kamu itu sedang membicarakan siapa ? Dia itu anak pejabat le, nda
mungkin lah dia mau denganmu yang cuman berjualan bakso dan tempe, terlebih dia
sudah di khitbah oleh seorang lelaki yang sudah mapan dan kehidupannya jelas,
jadi kamu sadar diri aja le, insya allah masih banyak diluar sana yang baik
untukmu.” Lantas aku pun terdiam dan menjawab “inggih pakde“. (diadopsi dari kisah yang terdapat dalam ketika cinta bertasbih karangan habiburrachman el shirazy)