Senin, 08 Juli 2013

REALITA KEHIDUPAN


Waktu menunjukan pukul 2 pagi, pagi-pagi buta aku sudah harus bangun untuk mempersiapkan semua keperluan yang setiap harinya aku lakukan, ketika semua orang masih tertidur pulas, aku sudah harus bangun untuk mempersiapkan bahan-bahan yang harus aku olah untuk kujadikan makanan yang akan ku jual paginya. Setiap paginya aku harus membersihkan butiran-butiran kedelai yang akan ku olah untuk kujadikan tempe, selain itu aku juga harus mempersiapkan bahan-bahan untuk pembuatan bakso, karna selain aku menjual tempe aku juga menjual bakso. Selepas adzan shubuh aku memasak bahan-bahan yang akan kujadikan bakso, semua itu aku buat setengah matang dulu kecuali tempe karna tempe ini pada pagi harinya harus aku setorkan kepada pelanggan-pelanggan tetapku sebelum aku berangkat kuliah,  karna pada pagi harinya sampai siang hari aku harus mengikuti perkuliahan seperti teman-temanku yang lainnya, usai dari perkuliahan aku langsung kembali ke kontrakan yang aku sewa bersama dengan teman-teman yang lainnya untuk ku persiapkan semua dagangan ku. Setiap harinya aku berjualan bakso didekat kampus karna disanalah kiranya tempat yang tepat untuk aku berdagang, jika aku sedang tidak bisa untuk berjualan bakso karna jadwal kuliahku, maka aku menyuruh temanku untuk berdagang sementara sampai aku selesai kuliah dengan memberikan sedikit upah kepadanya, namun dia tak pernah mau untuk menerima pemberianku ini karna mereka tau bagaimana kondisiku, mereka semua membantuku dengan ikhlas. Alhamdulillah walaupun tidak sepi tapi warung bakso ku setiap harinya ada saja yang membelinya, dan karena cara penyajianku yang menyenangkan pelanggan dan mereka semua mengatakan kalo bakso yang kujual ini rasanya enak, maka tak jarang juga daganganku ini ada yang memesannya untuk acara pernikahan dan hajatan bagi pelanggan-pelanggan ku. Semua ini aku lakukan agar aku dapat mencukupi kebutuhan ku sendiri dan membiayai adik-adikku di kampung halaman.
Aku adalah seorang mahasiswa jurusan ekonomi penjual bakso dan tempe yang Alhamdulillah masih dapat berkuliah di salah satu Universitas ternama di Indonesia. Aku bukanlah orang yang mampu seperti teman-teman kuliahku, aku masuk Universitas disini karena beasiswa yang aku dapatkan saat aku mencoba tes masuk di sini. Aku merupakan anak tertua dari ke empat adik-adik ku yang saat ini adikku yang paling besar  juga sedang berkuliah disalah satu Universitas ternama di kampungku, adikku yang ke dua dia saat ini sedang mengambil kejurusan dari mata pelajaran yang dia iniginkan, dia mengambil jurusan kumunikasi yang sebentar lagi selesai dan akan lulus, sedangkan adikku yang paling kecil dia saat ini sdang duduk di bangku sekolah dasar dan terakhir aku melihat dia adalah ketika dia masih kecil, semua adik ku adalah perempuan dan mereka semua cantik-cantik seperti bintang film yang berada di TV, kampungku berada di Kabupaten Sragen Jawa Tengah, dan aku hidup di kota besar seperti Jakarta ini membuatku harus benar-benar memutar otak untuk dapat menghasilkan uang tambahan untuk tambahan biaya kuliahku dan biaya aku menginap disini, untuk saat ini aku hanya mampu menyewa sebuah kontrakan yang berisi 4 kamar yang di isi oleh aku dan teman-temanku. Karena kami tinggal dalam satu atap maka kedekatan kami pun seperti keluarga, dan yang paling tua di antara teman-temanku adalah aku, dan akulah disana yang menjadi imam dari orang-orang yang berada satu atap denganku.
Sudah hampir delapan tahun aku berada di ibukota Jakarta tanpa pernah kembali pulang untuk bertemu keluargaku, bukannya aku tak mampu untuk mengikuti pelajaran yang diberikan oleh semua dosen-dosenku, dan bukan pula aku tak ingin kembali pulang bertemu dengan keluarga tercintaku yang sudah mengharapkanku untuk kembali pulang menyelesaikan kuliahku, namun aku begini karna aku disini mencari uang untuk kukirimkan ke kampung halamanku dan untuk biaya hidupku sendiri. Tak ada kata libur dalam kamus hidupku, selagi aku masih kuat dan mampu untuk bekerja, belajar, dan mencari uang mencari uang, maka itu semua akan kulakukan untuk membuatku keluarga ku bahagia dan bangga. Terkadang aku iri melihat teman-teman sebayaku yang sedang bermain bersama dengan yang lainnya, tak jarang juga aku ingin seperti teman-temanku yang sekarang sudah lulus kuliah, bekerja, dan mempunyai seorang istri, aku ingin meminang wanita yang aku cintai dan ingin kujadikan istri, namun aku sadar siapa aku ini, aku hanyalah seorang penjual bakso dan tempe yang tak bisa mendapatkan keinginan seperti yang ku mau tersebut, mana ada seorang wanita dizaman sekarang yang mau dengan seorang penjual tempe yang tidak mempunyai apa-apa ?, mana ada orangtua yang mau anaknya dinikahi oleh seorang penjual tempe seperti aku ini di zaman sekarang ini ? para orangtua pastinya menginginkan anaknya mendapatkan suami yang sudah jelas pekerjaanya dan netap penghasilannya, bukan seperti aku ini yang pekerjaannya hanya menjual bakso dan tempe dan penghasilan yang aku dapatkan perbulanpun tidak menetap seperti orang-orang yang bekerja di perkantoran, terlebih aku sampai saat ini belum kelar juga kuliahnya, aku hanya bisa bermimpi mendapatkan seoarang putri raja yang mau kujadikan istri.
Disela-sela waktu istirahatku, tak pernah aku lewatkan untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang menciptakanku, yang membuat aku dapat sampai seperti sekarang ini berkat semua rizki dan kemurahannya. Dalam sujud aku selalu meminta dan memohon kepada-Nya untuk selalu memberikan perlindungannya kepada keluargaku di Sragen, Jawa Tengah. Air mata rindu ini selalu membasahi pipi ketika ku rindu kepada sosok Ayahku yang kini telah hidup dengan tenang di alam sana, setiap malamnya selalu ku kirimkan do’a untuk beliau disana, aku dapat seperti sekarang ini berkat didikan beliau, beliau selalu membekaliku dengan agama-agama, pesan beliau sebelum pergi adalah “Ndo,Le, papa ndak bisa mewariskan harta kepada kalian karena papa bukanlah orang kaya, dan papa takutkan karna harta itulah kalian nanti justru saling bermusuhan, warisan yang dapat papa berikan ke kalian adalah ilmu, karena seseorang tanpa ilmu seperti orang yang berjalan tanpa tujuan, karena dengan ilmulah nanti yang akan membawa kalian kedalam kesuksessan”. Setiap malamnya yang ada dalam benak kepalaku sebelum aku tidur memejamkan mata, adalah bu’e, tawa dan senyumnya yang selalu menguatkan kehidupanku, aku teramat sangat rindu dengan Bu’e, rindu masakannya yang selalu saja bisa membuatku mengatakan “waah.... bu’e ini, masakannya selalu saja enak, padahal yaa cuman ikan sama sambal tok, masakan di restoran kalah iki bu’e”, karna disini aku setiap harinya hanya membeli lauk jadi di warung makan sebelah kontrakan ku, dan kalaupun masak, aku hanya bisa masak telor.
Kini akulah yang menjadi tulang punggung keluargaku, walaupun kini adik ku yang paling besar kini sudah mampu menghasilkan uang sendiri dari karya-karyanya, dia suka sekali menggambar dan membuat beberapa design, dan karena keahlian dan hobinya itulah kini dia telah mampu mencari uang sendiri membantu meringankan beban kebutuhan keluarga. Hari libur aku kupergunakan untuk mencari rizki lebih banyak lagi, tak hanya aku menjual bakso saja pada saat hari weekend, tetapi aku juga mulai menjual rokok dan pulsa untuk tambah-tambahan. Setiap bulannya aku kirimkan beberapa ratus ribu kepada keluargaku di kampung. Tak jarang bu’e bertanya kepadaku “kapan bu’e bisa menimang cucu seperti orangtua yang lainnya?”, dengan lembut aku menjawab pertanyaan bu’e “Insya allah bu’e secepatnya, mohon do’anya saja bu’e”, mendengar perkataan bu’e ini aku semakin sedih, karena sempat aku jatuh cinta kepada seorang wanita yang begitu anggun dan baik paras dan tingkah lakunya, namun karena realita kehidupan maka ku urungkan niat untuk melamarnya karna wanita itu merupakan anak dari seorang yang bisa dikatakan tinggi tingkatan derajat dan martabatnya dan sedang mengambil S2 di Universitas yang sama denganku. Aku mengetahui hal ini dari pakde ku yang kebetulan kenal dengan wanita tersebut, mendengar aku ingin melamarnya walaupun aku belum pernah sempat dekat dengan wanita tersebut, lantas pakde ku pun berkata “ Le.. mbo ya kamu sadar, kamu itu sedang membicarakan siapa ? Dia itu anak pejabat le, nda mungkin lah dia mau denganmu yang cuman berjualan bakso dan tempe, terlebih dia sudah di khitbah oleh seorang lelaki yang sudah mapan dan kehidupannya jelas, jadi kamu sadar diri aja le, insya allah masih banyak diluar sana yang baik untukmu.” Lantas aku pun terdiam dan menjawab “inggih pakde“. (diadopsi dari kisah yang terdapat dalam ketika cinta bertasbih karangan habiburrachman el shirazy)

2 komentar: