Senin, 24 Juni 2013

Aku Adalah Musuhku

Hari libur merupakan hari untuk bermalas-malasan untuk ku, kegiatanku saat itu adalah tidur, makan, lalu tidur lagi sampai aku tak sadar kalau karna hal itu sudah banyak kegiatan penting yang aku tiggalkan, kesempatan banyak yang ku sia-siakan hanya karna aku menuruti hawa nafsu ku untuk terus bermalas-malasan. Terkadang akupun sudah tau dampak dan akibat atas perbuatan malas yang aku perbuat tersebut, tapi aku tak memperdulikannya dan terus menikmati semua itu walau telah banyak kesempatan yang telah aku abaikan, aku hanya mementingkan diri sendiri dan keegoisan diri tanpa mementingkan keadaan sekitar ataupun orang disekitarnya. Tak jarang aku juga sering menyakiti perasaan oang lain hanya karna aku mengikuti hawa nafsu ku tersebut, orang tuaku yang membangunkan ku untuk mengajak makan saja aku sering lawan dan tak memperdulikan mereka karna aku masih ingin bermalas-malasan.

Tak jarang aku suka menyakiti perasaan orang lain yang tak aku sadari, terkadang saat aku telah membuat janji kepada sesorang, aku seketika pun membatalkannya hanya karna aku merasa capek atau malas untuk keluar, untuk membuat dia tidak begtu kesal denganku saat itu juga aku meminta maaf kepadanya dengan alasan yang lain supaya dia dapat memakluminya, sebenarnya aku hanya malas keluar, dan itulah jawaban yang sesungguhnya. Tak jarang pula aku melewatkan kesempatan baik atau rejeki hanya karna aku merasa ngantuk, aku pernah mendapatkan panggilan dari sebuah perusahaan untuk menawarkan kerja denganku, tapi karna aku mengikuti hawa nafsuku untuk tidur karna aku merasa sangat ngantu, maka aku tidur dan meninggalkan kesempatan tersebut, begitu aku terbangun aku merasa menyesal.
Dalam lingkungan sehari-haripun aku secara tak sadar telah banyak menyakiti perasaan orang lain. Saat sedang bersama-sama dengan seorang teman atau seseorang yang sedang dekat denganku, ketika dia menginginkan sesuatu setelah kesepakatan bersama-sama dengan yang lainnya namun tak sesuai dengan keinginanku, maka akupun merasa jengkel dan kesal kepada dia dan bersikap jutek dan membuat oranglain berfikir aku itu seperti anak kecil yang harus diturutin kemauannya.

Sejatinya aku tau apa yang telah aku lakukan, dampak dan akibatya aku telah tau, namun sulit bagiku untuk melawan rasa keinginan dalam diriku sendiri, amat sangat sulit menahan semua hawa nafsu ini. Aku ingin melawannya dan menghilangkannya, tapi lagi lagi aku selalu gagal, pernah ada seseorang yang amat sangat baik kepada ku, dan dia amat sangat sabar menghadapi aku, dan berusaha mengingatkanku untuk tidak seperti itu dan memberikan contoh untuk ku bagaimana caranya untuk dapat melawan hal tersebut, namun lagi lagi karna hawa nafsu ini akhirnya akupun membenci dan menyuruhnya untuk pergi. Tak jarang karna aku yang salah dan bukan dia yang salah tapi aku justru memarahinya. “Hawa nafsu” ini menggangguku, aku ingin keluar dari ini semua, aku inigin melawannya, aku ingin melawan hawa nafsu dari marahku, aku ingin melawan hawa nafsu dari keinginan-keinginan ku yang bersifat merugikan ku, aku ingin melawan semua hawa nafsuku ini. Tuhan tolonglah hambamu ini, aku ingin berubah, telah banyak kusia-siakan semua yang telah datang kepadaku hanya karna aku menuruti hawa nafsuku. Tuhan datangkanlah sesuatu untuk ku yang dapat membuatku berfikir dan berubah. “Aku adalah musuh terbesarku”