Selasa, 30 Juli 2013

Hang Tuah

Waktu menunjukan pukul 04.30 dini hari, sudah saatnya aku untuk bangun dan melakukan sholat shubuh. Tubuhku yang kering kerontang ini, dan juga sudah mulai tidak kuat untuk berdiri lama akibat penyakit yang aku alami sejak dulu, tak menghalangiku untuk bersemangat mencari rezeki yang disiapkan dan diberikan Tuhan kepada semua hamba-hambanya disetiap harinya.
Pukul 05.00 pagi dini hari selesai sholat shubuh, aku mempersiapkan segala sesuatunya yang biasanya aku lakukan setiap harinya. Aku mempersiapkan hasil kebunku untuk dijual kepada orang-orang yang barangkali menginginkannya.

Aku memiliki kebun sendiri walaupun tak cukup luas dan besar namun dari kebun itu dapat menghasilkan beberapa lembar rupiah untuk keperluan hidupku setiap harinya.
Aku tak ingin dan tak bisa untuk berdiam diri dan berpangku tangan seharian tanpa melakukan apapun. Aku tinggal di daerah perkampungan yang kumuh namun masyarakatnya disana sungguh memiliki sikap kekeluargaan, sehingga antara satu dengan yang lainnya sudah sama-sama dekat sudah seperti keluarga sendiri, walaupun aku hidup disebuah gubuk yang aku anggap rumah, dan aku hidup sendirian tanpa teman yang dapat menemaniku, jika kuingin mengobrol maka aku keluar rumah untuk ngobrol-ngobrol dengan tetangga-tetanggaku disekitarnya.

Waktu menunjukan pukul 05.30 sudah saatnya aku untuk bersiap-siap berjualan hasil kebunku yang ingin kujual kepada orang-orang yang membutuhkan, hasil kebun seperti pisang, rambutan, dan juga terkadang sayur mayur aku kumpulkan dalam sebuah wadah yang nantinya aku akan masukan kedalam sebuah tempat yang terbuat dari kayu untuk kusatukan semuanya dan kemudian dari wadah kayu tersebut aku sangkutkan dengan sebatang bambu untuk membopongnya, karna daganganku ini aku pikul.

Walaupun aku sudah tak seperti dulu lagi dan sekarang sudah mulai sakit-sakitan, tapi rasa itu semua tak akan kubiarkan mengalahkan semangatku untuk mencari nafkah. Dipagi hari yang cerah aku selalu berharap kepada Tuhan agar daganganku ada yang terjual walaupun hanya satu. Kupikulnya daganganku menuju tempat yang biasa aku jadikan tempat untuk berjualan, aku berjualan didepan sebuah rumah yang memiliki toko, karna ku tau toko itu bukanya sedikit rada siang maka aku ambil kesempatan untuk berjualan di situ yang sebelumnya aku telah meminta izin kepada sang pemeilik rumah, karna jika aku berjualan ditempat lain, aku harus membayar biaya sewa tempat setiap harinya. Aku berjualan di komplek perumahan dan berlokasi di sekitar depan kompleknya, jadi pada saat pagi hari, siapa saja yang melewati tempat itu, maka akan melihatku juga.

Sesampainya disana aku membersihkan tempatnya agar nampak terlihat sedikit bersih, aku membersihkan halaman tempat aku berjualan dengan daun pisan kering yang menempel pada pisang daganganku. Kebanyakan mereka yang membeli daganganku adalah mereka yang merasa iba dan kasihan kepadaku, walaupun sebenarnya aku paling tidak suka dikasihani tapi aku membutuhkan uang nntuk biaya hidupku setiap harinya. Mereka iba kepadaku karena aku ini merupakan seorang laki-laki tua paruh baya yang sudah berusia lebih dari setengah abad, badanku pun kurus kering dan kelihatan sakit-sakitan, jalanku saja tidak lagi tegap seperti yang lainnya, aku berjalan bungkuk karna sebuah faktor yang dinamakan “fakor u” yaitu faktor usia.
Tak jarang aku melihat anak-anak seusia di bangku sekolah menengah hilir mudik untuk berangkat sekolah setiap hariya, setiap aku melihat mereka, aku selalu membayangkan wajah cucuku, mungkin dia akan terlihat sama seperti anak-anak sekolah lainnya  jika dia masih berada disini bersama dengan anak-anakku. Anak-anakku pergi meninggalkanku karna kini mereka semua telah bekerja dan tinggal menetap di dekat tempat kerjanya, dan ada pula yang ikut suaminya dan pulang ketika lebaran, sedangkan istriku sendiri, telah pergi meninggalkan ku karna dipanggil sang maha pencipta menghadap kepadanya, beliau pergi ketika kami sedang mengadakan sholat shubuh berjamaah, ketika sujud terakhir, beliau tidak bangun lagi, selepas ku selesai sholat aku memanggil namanya dengan lembut dan menyentuhnya, namun ketika aku menyentuhnya, tubuhnya lemas tak berdaya da terjatuh kesamping, seketika itu juga aku menyadari bahwa beliau telah tiada. Tak terasa air mata membasahi pipiku mengalir sangat deras, namun aku bahagia karna beliau dipanggil sang maha kuasa ketika sedang bersujud menghadap kepadanya.

Anak-anak ku menyuruhku untuk ikut dengan salah satu dari mereka agar aku ada yang megurusnya dan agar aku tak sendiri, sering kali mereka menawarkan rumah baru yang lebih baik lagi untuk tempat aku tinggal, namun aku menolaknya. Aku lebih suka untuk tinggal dan menetap di gubuk tua yang aku punya ini menghabiskan sisa umurku bersama dengan teman-teman sebayaku dan tetangga-tetanggaku yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri.

Aku berjualan hasil kebunku ini tidak setiap hari hanya ketika hasil kebunku berbah saja, dan ketika hasil kebunku tak berbuah dan tak ada yang bisa untuk kujual, maka aku membuat sapu lidi dari daun kelapa yang diambil batangnya lalu kukeringkan dan aku  jual. Tidak setiap harinya, dagangan yang aku jual dan tawarkan itu laku satupun, maka keesokan harinya aku kembali menjualnya lagi selagi masih bisa dijual dan belum busuk. Disetiap pagi yang kulalui dengan berjualan hasil kebunku, aku selalu berharap dan berdoa agar aku dapat disatukan kembali dengan istriku di akhirat nanti. Inilah aku seorang kakek-kakek tua paruh baya yang umurnya sudah hampir satu abad yang tak kenal lelah untuk bekerja dan mencari uang untuk kebutuhan hidupku, walaupun hanya kulit yang melapisi badanku ini dan dengan keadaan yang sakit-sakitan.