Minggu, 19 Februari 2012

Aku Lupa

Di pagi itu aku bangun tepat pukul 05.00 pagi setelah sebelumnya pada malam hari aku melakukan aktifitas-aktifitasku sehari-hari sebagai seorang penulis yang mencoba mencari sebuah ide atau judul tulisan yang dapat menarik pembacanya. Aku terbangun karena aku mendengar bunyi alarm yang sengaja aku pasang dan setel jam segitu, seperti biasa begitu aku bangun pagi lalu aku mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat shubuh, dalam do'a setelah aku selesai sholat shubuh aku memanjatkan do'a yang berharap akan perubahan kehidupan yang menjadi lebih baik lagi dari sekarang, karena saat ini aku bisa dikatakan hidup serba kekurangan, aku tinggal di sebuah tempat kecil yang hanya berisi kamar mandi dan ruang tamu saja dan itupun hasil dari pemberian orang yang baik hati dan kasihan kepadaku, namun aku menyebutnya itu adalah rumahku tempat aku berfikir untuk mendapatkan uang yang nanti bisa aku pakai untuk makan sehari-hari. Aku bukanlah seorang penulis buku terkenal, aku hanya seorang laki-laki yang mencoba menjual sebuah tulisan-tulisan yang bisa dikatan menarik kepada sebuah media. tak jarang dari tulisan yang aku tulis dan ingin aku jual ke media-media itu dibeli atau menarik orang yang menjaga atau menseleksi tulisan-tulisan tersebut, namun aku terus berusaha dan tetap semangat dalam mencari uang yang halal hasil keringat sendiri. Sudah hampir 2 tahun lebih aku menjadi seorang penulis kecil-kecilan ini, tak jarang pula aku mencoba melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan, namun semuanya nihil, aku ditolak mentah-mentah karena aku tak bisa apa-apa dan aku hanya lulusan SMU, sebenarnnya aku ini seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, namun karena keterbatasan biaya aku memilih untuk berhenti kuliah saja, padahal aku sudah semester 7 pada waktu itu tinggal sedikit lagi aku bisa menjadi seorang sarjana. Aku tinggal dijakarta ini seorang diri karena orangtuaku berada di luar pulau jawa dan mereka sudah sangat tua dan sakit-sakitan dan mereka kini dirawat oleh saudara-saudaraku.

Kehidupanku setelah aku putus kuliah sangat berat, tak jarang aku seharian penuh tak makan karena tak mempunyai sepeser uangpun, dan tak jarang juga aku diberikan makanan oleh tetangga dekat rumahku karena aku terhadap keluarganya sudah dianggap seperti anak sendiri, anaknyalah yang menjadi temanku dan karena aku sering bermain kerumahnya dan orangtuanya kenal dekat denganku maka kini aku sudah dianggap anak sendiri oleh mereka,namun aku bukanlah seorang yang berpangku tangan dan mengharap akan belas kasihan dari orang lain, aku terus dan terus berusaha mencari pekerjaan walau hanya jadi tukang cuci piring yang penting aku bisa makan dan melanjutkan kehidupan ini. Sambil menjadi seorang penulis jalanan aku juga merangkap sebagi tukang cuci kendaraan pada suatu bengkel, walaupun penghasilannya masih kurang yang penting aku bisa makan untuk saat itu.
Hari berganti hari bulan pun berganti bulan samapai tahunpun ikutan berganti, pada suatu pagi aku ikut sholat shubuh berjamaah di suatu masjid besar di salah satu perumahan mewah dijakarta, dan ternyata sehabis shubuh dimasjid tersebut mengadakan siraman rohani, akupun ikut mendengarkan bersama-sama orang-orang yang hadir pada pengajian tersebut, dan pada waktu pengajian itu aku duduk disamping seorang laki tua yang berambut putih hampir tidak adalagi yang berwarna hitam karena sudah tertutup dengan ubannya itu, pria itu lalu menyapaku lalu dengan spontan dan penuh senyum akupun membalas sapanya tersebut, dan percakapan pun berlangsung hingga pengajian itu selesai, tentunya pada saat sang ustad menyampaikan tausiyahnya aku dan sang pria ini ikut mendengarkan perkataan-perkataan yang terucap dari mulut sang ustad tersebut. Pria berambut putih itu lalu menanyakan tentang pekerjaanku, dan tentu saja akupun akan menceritakannya sambil berfikir positif saja, karena sesuai dengan firman-Nya yang berbunyi "aku tergantung prasangka hambaku", sebelum aku sempat memberitahukan pekerjaanku, aku berfikir "mungkin pria berambut putih inilah yang dikirimkan oleh Allah swt yang nantinya merubah kehidupanku yang saat ini kurasakan sangat susah", lalu akupun memberitahukan kepadanya tentang semua pekerjaan ku itu,pada saat aku berkata "aku adalah seorang penulis jalanan kecil-kecilan" pria itu lalu tertawa dan menepuk pundak ku ini, lalu diapun berkata "hai anak muda tidak ada itu yang namanya seorang penulis jalanan kecil-kecilan, seorang penulis akan terus menjadi seorang penulis dan nama itu akan terus merekat padannya." lalu diapun ingin melihat semua hasil dari tulisan yang aku pernah tulis, dia memberikan alamat emailnya untuk dikirim tulisannya kesitu.
Siangnya akupun pergi kerumah temanku yang orangtuanya sudah menganggapku seperti anak sendiri lalu menceritakan kejadian yang tadi pagi menimpaku, aku memakai komputernya menulis dan mengirim tulisan-tulisanku tersebut ke email yang tadi pagi diberikan olah pria berambut putih tersebut, setelah itu aku kembali kerja sebagai tukang cuci kendaraan pada suatu bengkel.
Keesokan harinya temanku itu menghampiri aku dan memberitahuakan kepadaku bahwa aku diundang besok ketempat kerjanya pada siang hari pukul 02.00 siang dengan menyuruhku membawa sebuah tulisan yang baru yang menarik yang dapat membuat seorang pembaca bergairah membaca tulisan tersebut, permintaan pria berambut putih itupun aku turuti, pada malam harinya aku membuat sebuah tulisan yang nantinya akan kuserahkan untuknya.

Di pagi itu seusai aku sholat shubuh aku melanjutkan sebuah tulisan yang sempat tertunda pengerjaannya akibat aku ketiduran, yang nanti siangnya ingin aku berikan kepada pria berambut putih. Tepat pukul 02.00 siang aku sampai di tempat kerja dari pria berambut putih tersebut,ternyata dia kerja pada peruasahan besar dan saat aku bertemu dengan dirinya aku keget ternyata pria ini adalah pemilik dari perusahaan besar tersebut, lalu akupun memberikan hasil tulisanku itu kepadanya, setelah menunggu beberapa saat diapun mengatakan padaku "selamat tulisan anda ini sangat menarik dan hampir dari seluruh karyawan dan petinggi yang ada pada perusahaan ini menyukai tulisan anda, baiklah kalau begitu, kapan anda siap untuk bekerja untuk perusahaan ini ?" mendengar pernyataan tersebut akupun diam seribu bahasa tak percaya akan kejadian ini, lalu pria itupun kembali berkata "sebenarnya sata sedang mencari seorang penulis muda yang berbakat dan kreatif, dan hal itu saya dapatkan pada diri anda anak muda, jadi muali besok saya ingin anda bekerja di perusahaan ini dan menghasilkan tulisan-tulisan yang menarik lagi yang nantinya akan saya publikasikan ke masyarakat luas, anda siap ?" dalam keadaan masih tak percaya akupun lalu menganggukkan kepalaku. Kabar inipun lalu aku sampaikan kepada temanku dan orangtuanya ini, merekapun sangat senang mendengar kabar tersebut.

Keesoakan harinya pun aku mendatangi perusahaan tersebuat dan mulai melakuykan kerja di hari pertama aku kerja, selang beberapa bulan berlalu aku mulai merasakan perubahan dalam hidupku, perasaan lapar yang dulu selalu aku rasakan setiap hari kini sudah lagi tak kurasakan karena aku sekarng telah hidup berkecukupan, setahun pun telah aku lalui semenjak aku kerja diperusahaan tersebut, kini aku telah memliki mobil sendiri hasil kerja kerasku selama ini, kehidupan ku pun kini sungguh-sungguh berubah, saat ini aku hidup penuh dengan kemewahan dan sudah tidak tinggal lagi di perumahan kumuh seperti waktu itu, segala apa yang kuinginkan kini sanggup aku beli dan dapatkan, kesombonganpun mulai mendatangiku dan menjadi temanku saat ini, orang-orang yang dulu selalu membantuku kini aku telah melupakannya sibuk dengan kebahagiaanku sendiri, dan aku tak ingin berusan lagi dengan mereka.
Suatu ketika ada teman dikantorku yang kehilangan handphone nya dan iapun meminjam uang kepadaku untuk beli handphone lagi seadanya, namun aku sombong dan berkata "sudah tak usah difikirkan uang yang aku pinjamkan ini,ini mah kecil gak seberapa,aku masih bisa memberikanmu yang lebih bagus lagi jika kamu mau." lantaran perkataannya ini sang temanpun berkata " hai, janganlah kau sombong atas apa yang kini telah kau dapatkan dan rasakan, semua ini akan kembali lagi pada-Nya" lalu aku menganggukan kepala dan tak memperdulikan perkataan temanku tersebut. Kehidupanku kini bisa dikatakan sudah membuatku jauh dari Tuhan, akupun sering berfoya-foya dengan teman-teman baruku disana dan tak memperhatikan dan memperdulikan orang lain diluar sana yang merasa kelaparan dan membutuhkan uluran tangan. Tak jarang akupun suka bermain ke klub-klub malam sambil ditemani wanita-wanita cantik yang berpakaian minim yang tak jarang salah satu dari wanita-wanita itu aku ajak pulang tidur bersamaku.

Saat ini sungguh aku merasa sangat bahagia, karena bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan, dan kesombongan kini menjadi temanku karena aku merasa bisa memiliki segalanya dengan uang yang aku miliki ini,sampai suatu ketika aku terjatuh sakit, pertama-tama aku berfikir "ahh..ini mah sakit biasa ntar juga ilang" tapi sudah lebih dari 3bulan aku mengalami penyakit ini tak kunjung sembuh malah bertambah parah, akupun pergi bolak-balik kerumah sakit untuk berobat, sampai-sampai hartaku yang selama ini aku kumpulkan telah habis aku pakai untuk berobat, dan karena penyakit yang aku alami ini membuat aku tidak fokus bekerja lagi dan pada akhirnya akupun dipecat karena penyakit ini. Tiap kali aku batuk pasti mengeluarkan darah dan lebih parahnya lagi tangan kiri ku tak bisa digerakkan, lalu teman-teman kantorku pun datang menjenguk dan memberikan saran untuk dirawat inap saja dirumah sakit, mendengar saran itu, akupun mengiakannya, sebulan aku dirawat inap di rumah sakit yang berkawasan didaerah jakarta sampai-sampai aku menjual mobil dan rumahku untuk kesembuhanku ini, dalam malam itu aku menangisi akan segala perbuatanku selama ini, aku diberikan kekayaan tapi aku tidak bersyukur justru aku sombong dan kufur, baru sekarang lagi aku berfikir seperti itu, dalam hati aku berkata sambil menangis "Ya Allah ampunilah kebodohan dan kesalahan hambamu ini".
Pada suatu pagi aku dibangunkan oleh seorang perawat yang mengatakan bahwa jika anda ingin dirawat lebih lama lagi disini anda harus membayar uang lebih lagi, akupun berkata " baik hal itu akan saya lakukan" namun dalam hati aku berfikir "uang darimana lagi untuk membayar rumah sakit ini? semua harta dan yang dulu aku kumpulkan kini telah aku jual" lalu perawat itu berkata lagi "kalau sampai nanti malm anda belum juga membayar, dengan berat hati pihak rumah sakit akan mengusir anda". Aku hanya bisa menangis dan terus menangis, aku menyesal atas semua yang dulu aku lakukan, aku lupa, aku tak memperdulikan dirimu ya Allah, aku melalaikan semua perintahmu ya Allah, aku tak melakukan lagi hal-hal yang dulu sering aku lakukan saat aku mash susah seperti bersedekah,sholat malam, dan lain sebagainya, maafkanlah aku ya Allah yang telah lupa akan dirimu.
Dalam kesedihan plus kebingungan, aku pasrahkan segala sesuatunya kepada Allah, aku mengikhlaskan apapun yang akan terjadi pada diriku kelak,pada saat itu datanglah temannya semasa susah beserta orangtuanya, mereka mengatakan "apa yang udah terjadi sama kamu ndo ? kenapa sekarang kamu seperti ini ? hal apa yang udah kamu perbuat sampai Allah memberikan ujian ini sama kamu ndo ?" orangtua ini pun lalu menangis sambil memelukku, setelah itu aku ceritak semuanya dari awal sampai sekarang ini kepada mereka, dan mereka berkata "biar kami saja yang akan mengurus kamu ndo, kamu ndak usah memikirkan siapa yang akan merawat kamu nantinya." pada malam itu pula aku dibawa oleh keluarga temanku ini pulang kembali ketempat dulu aku menjadi seorang pencuci kendaraan. Satu bulan telah berlalu setelah aku keluar dari rumah sakit itu, dan aku merasakan sudah enakan dan tanganku pun sudah bisa digerakkan, keluarga itu merawatku benar-benar dan sangat ikhlas, semua keperluanku mulai dari makanan sampai pakaian mereka semua yang menyiapkannya. Saat mereka membawa makanan untuk makan siangku, aku memegang erat tangan mereka berdua sambil menangis dan berkata "Bapak, bu'e aku mau minta maaf karena disaat aku sudah menjadi orang tapi aku justru lupa kepada kalian dan tak datang lagi berkunjung untuk bersilaturahmi, dan aku ingin bersyukur kepada Allah swt karena telah didatangkan oran-orang seperti kalian untukku serta aku masih di izinkan untuk kembali menjalani kehidupan ini," sambil terus menangis aku berkata "bapak bu'e aku sayang kalian seperti aku menyayangi kedua orangtuaku sendiri."

Hari berganti hari, dan akupun merasa kembali lagi seperti dulu benar-benar vit lagi, pada pagi itu aku bangun dan melangkahkan kakiku ke mesjid terdekat untuk melaksanakan sholat shunuh berjamaah, seusai sholat akupun berdoa "Ya Rob ampunilah aku ini atas segala kekhilafan, kebodohan, kesombonganku ini, karena aku telah tak memperdulikan dirimu, karena aku telah lupa pada-Mu, namun di pagi ini izinkanlah aku untuk kembali kepadamu seutuhnya, aku ucapkan puji syukur kepada-Mu karena engkau masih sayang kepadaku dengan memberikanku penyakit, karena engkau masih mengijinkanku untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang selalu ada untukku, Ya Rob berikanlah selalu keberkahan dalam setiap apapun yang aku dapatkan dan miliki, karena sesungguhnya semua yang aku miliki, semua yang hamba-hambamu miliki itu sejatinya hanya milik-Mu ya Rob, kapan akan engkau ingin mengambilnya aku siap karena itu semua milik-Mu dan aku hany dititipkan saja, kabulakanlah doa hambamu ini ya rob, amiiin"

Fikiran yang Mendatangkan Kebaikan

Semua yang terjadi adalah kehendaknya dan sudah direncanakan oleh sang Khalik. Tawa, sedih, suka, duka, semua itu akan tetap berlalu seiring jalannya waktu, apa yang menurut kita baik belum tentu baik bangi-Nya begitu juga apa yang menurut kita tidak baik atau buruk bisa saja itu adalah yang terbaik bagi-Nya, segala sesuatunya sudah ada yang merencanakannya kita hanya tinggal menjalankan peran kita saja seperti orang-orang yang ada pada sebuah perfilman, kita ini semua adalah aktor dan aktris bagi sebuah film yang kita buat sendiri yang dimana sutradaranya sendiri adalah Tuhan sang semesta alam, apapun yang kita perbuat dibumi itu semua nantinya akan terekam pada sebuah alat jika di ibaratkan dalam dunia perfilman, segala perbuatan baik buruk kita semua itu nantinya akan kita lihat sendiri, jika kita lebih banyak melakukan perbuatan buruk maka siap-siap saja kita akan menyesal dan akan sangat malu akan semua perbuatan kita, namun jika kita lebih banyak melakukan amal kebaikan maka siap-siap pula kita akan mendapatkan sebuah reward yang sangat di idam-idamkan oleh seluruh makhluk hidup di dunia ini yaitu, SURGA.

Segala Kebaiakan tak akan terhapus oleh kepaitan, kita hanya diminta untuk selalu berfikir positif terhadap apapun yang terjadi dan menimpa pada diri kita, karena sesungguhnya dari sikap positif itulah nanti kita akan mendapatkan apa yang kita fikirkan dimana hal ini tercantum dalam sebuah firman Allah Swt pada salah satu ayat Al-Qur'an yang artinya : "Sesungguhnya aku tergantung yang difikirkan hambaku". Dalam kutipan itu kita sebagai hambanya diminta dan dituntut untuk selalu berfikir positif serta bersabar dalam menghadapi segala persoalan dan kesulitan, karena jika ada kesusahan pasti Allah swt pun akan memberikan kemudahan-Nya untuk kita. Segala kesulitan yang menimpa kita sesungguhnya itu karena Dia sayang kepada kita dan mengingatkan kita.

Jangan pernah berfikir "ah,kenapa nasib saya selalu seperti ini, sengsara dan selalu susah ? kenapa saya tak bisa merasakan hal-hal indah seperti orang-orang kaya diluar sana ?" karena dibalik itu semua Allah swt sedang merencanakan sesuatu yang terbaik dan terindah untuk kita, selain itu Dia pun sedang menguji hambanya apakah dia layak atau tidak jika diberikan segala yang dia inginkan tersebut ?. Sekali lagi kita diminta untuk selalu berfikir positif tentang segala sesuatu yang menimpa kita, karena hal itulah nantinya yang akan kita dapatkan, selain itu, kita juga dituntut untuk senantiasa bersabar dalam mengahadapi segala cobaan, karena tak selamanya manusia itu dibawah dan tak selamanya pula manusia itu di atas, hidup akan terus berputaar seperti roda.

Sedekah Menaikan Derajat

ORANG KAYA KIKIR, PELACUR, PENCURI BERTAUBAT KARENA MENERIMA SEDEKAH YANG IKHLAS - Abu Hurairah r.a. berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Seorang laki-laki dari Bani Israil telah berkata, ‘Saya akan bersedekah.’ Maka pada malam hari ia keluar untuk bersedekah. Dan ia a telah menyedekahkannya (tanpa sepengetahuannya) ke tangan seorang pencuri. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan peristiwa itu, yakni ada seseorang yang menyedekahkan hartanya kepada seorang pencuri. Maka orang yang bersedekah itu berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah jatuh ke tangan seorang pencuri.” Kemudian ia berkeinginan untuk bersedekah sekali lagi. Kemudian ia bersedekah secara diam-diam, dan ternyata sedekahnya jatuh ke tangan seorang wanita (ia beranggapan bahwa seorang wanita tidaklah mungkin menjadi seorang pencuri). Pada keesokan paginya, orang-orang kembali membicarakan peristiwa semalam, bahwa ada seseorang yang bersedekah kepada seorang pelacur. Orang yang memberi sedekah tersebut berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah sampai ke tangan seorang pezina.” Pada malam ketiga, ia keluar untuk bersedekah secara diam-diam, akan tetapi sedekahnya sampai ke tangan orang kaya. Pada keesokan paginya, orang-orang berkata bahwa seseorang telah bersedekah kepada seorang kaya. Orang yang telah memberi sedekah itu berkata, “Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekah saya telah sampai kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya.” Pada malam berikutnya, ia bermimpi bahwa sedekahnya telah dikabulkan oleh Allah swt. Dalam mimpinya, ia telah diberitahu bahwa wanita yang menerima sedekahnya tersebut adalah seorang pelacur, dan ia melakukan perbuatan yang keji karena kemiskinannya. Akan tetapi, setelah menerima sedekah tersebut, ia berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang kedua adalah orang yang mencuri karena kemiskinannya. Setelah menerima sedekah tersebut, pencuri tersebut berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang ketiga adalah orang yang kaya, tetapi ia tidak pernah bersedekah. Dengan menerima sedekah tersebut, ia telah mendapat pelajaran dan telah timbul perasaan di dalam hatinya bahwa dirinya lebih kaya daripada orang yang memberikan sedekah tersebut. Ia berniat ingin memberikan sedekah lebih banyak dari sedekah yang baru saja ia terima. Kemudian, orang kaya itu mendapat taufik untuk bersedekah.”

Dari Ali r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Segeralah bersedekah, sesungguhnya musibah tidak dapat melintasi sedekah.”

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah swt. akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah swt., Allah swt. akan mengangkat (derajatnya). (Muslim)

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Ketika seseorang sedang berada di padang pasir, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Curahkanlah ke kebun Fulan.’ Maka bergeraklah awan itu, kemudian turun sebagai hujan di suatu tanah yang keras berbatuan. Lalu, salah satu tumpukan dari tumpukan bebatuan tersebut menampung seluruh air yang baru saja turun, sehingga air mengalir ke suatu arah. Ternyata, air itu mengalir di sebuah tempat di mana seorang laki-laki berdiri di tengah kebun miliknya sedang meratakan air dengan cangkulnya. Lalu orang tersebut bertanya kepada pemilik kebun, “Wahai hamba Allah, siapakah namamu?” Ia menyebutkan sebuah nama yang pernah didengar oleh orang yang bertanya tersebut dari balik mendung. Kemudian pemilik kebun itu balik bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menanyakan nama saya?” Orang itu berkata, “Saya telah mendengar suara dari balik awan, ‘Siramilah tanah Si Fulan,’ dan saya mendengar namamu disebut. Apakah sebenarnya amalanmu (sehingga mencapai derajat seperti itu)?” Pemilik kebun itu berkata, “Karena engkau telah menceritakannya, saya pun terpaksa menerangkan bahwa dari hasil (kebun ini), sepertiga bagian langsung saya sedekahkan di jalan Allah swt., sepertiga bagian lainnya saya gunakan untuk keperluan saya dan keluarga saya, dan sepertiga bagian lainnya saya pergunakan untuk keperluan kebun ini.” (Muslim).

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw. bersabda, “Seorang wanita pezina telah diampuni dosanya karena ketika dalam perjalanan, ia melewati seekor anjing yang menengadahkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya hampir mati karena kehausan. Maka, wanita tersebut menanggalkan sepatu kulitnya, lalu mengikatkannya dengan kain kudungnya, kemudian anjing tersebut diberi minum olehnya. Maka dengan perbuatannya tersebut, ia telah diampuni dosanya.” Seseorang bertanya, “Adakah pahala bagi kita dengan berbuat baik kepada binatang?” Beliau saw. menjawab, “Berbuat baik kepada setiap yang mempunyai hati (nyawa) terdapat pahala.” (Muttafaq ‘alaih)

Di kutip dari : http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10150572215911840&id=109056501839