Selasa, 14 Mei 2013

A Life

Mentari di ufuk barat terlihat sangat memukau. Orang kesana-kemari sibuk beraktifitas seperti biasanya, di ujung jalan dekat halte terdapat orang yang menunggu kendaraan umum untuk pergi berangkat kerja, teriakan tukang koran terdengar di segala penjuru untuk menjajakan jualan korannya berharap dagangannya laku keras hari ini. Orang-orang diluar sana sibuk pergi bekerja utnuk mencari kehidupan yang lebih baik lagi di kehidupan mendatangnya. Terkadang terbesit selintas pikiran "kok aku tak dapat seperti mereka diluar sana, yang memiliki harta yang melimpah, mobil lebih dari satu, rumah ada dimana-mana". Aku disini hanyalah seorang yang selalu saja mencoba untuk mencari keberhasilan disuatu tempat, namun Tuhan belum berkehendak untuk menjadikan aku orang yang sukses ditempat yang aku inginkan tersebut. Beribu kali aku telah ikuti semua test dan segala macamnya, namun samapai saat ini tak ada satupun yang berhasil. Aku pun juga manusia yang meiliki sifat jenuh. Tak jarang aku merasa sedih dan berfikiran "kenapa aku tak pernah berhasil dalam setap tes yang aku hadapi ? apa salahku sampai semua yang kuinginkan itu tak pernah bisa kudapatkan ?".
Dibalik jendela kamar yang sudah kusam kelihatannya karna dimakan usia, aku merenung dan tak bersemangat memandang keluar jendela yang didepannya terdapat 2 ekor kucing yang sedang bermain satu sama lainnya. mereka kelihatan begtu bahagia dan bersemangat walaupun mereka saling kejar-kejaran satu sama lainya. Ke dua kucing itu terlihat sangat kurus karna tak pernah diberi makan, bahkan terkadang mereka berdua untuk becanda saja susah karna saking laparnya. Namun ke dua kucing itu tak memperulikan itu, mereka tetap asik bermain walaupun mereka kelaparan dan kecapean akibat bermain tersebut.
Aku kembali melamun sambil membuka dan bermain handphone mengecek apakah ada pesan yg masuk ke handphone ku ini,namun ternayata tak kunjung ada pesan juga, handphone inin begtu sepi seperti aku merasakan sepinya hidup. Telah berulang kali aku mencoba untuk melihat apakah sekiranya ada tempat yang bisa kudatangi untuk menjadikanku seorang yang sukses.
Aku dibesarkan dikeluarga yang meiliki ketaatan sangat kuat, aku tak boleh keluar malam lebih dari jam 9 malam. Saking  kuatnya ketaatan dan peraturan yang diberlakukan oleh orang tuaku, sampai-sampai pernah suatu hari aku pergi bersama dengan kawan-kawan dan pulng sedikit larut, dan aku mengajak kawan-kawan ku tersebut untuk mampir sejenak dirumahku untuk kusuguhkan air. Namun yang tak terduga terjadi, ayahku keluarrumah dan melihat aku dan kawan-kwanku lau ayahku menampar mereka satu persatu karna pergi larut malam denganku. Sungguh tak enak hati aku terhadap kawan-kawanku tersebut, berniat baik justru mendapatkan hasil yang tidak baik. Keesokan harinya aku langsung meminta maaf kepada kwan-kawanku atas kejadian malm tadi.
Hari berganti hari tak sadar jika aku sudah cukup lama seperti ini, aku merasakan begtu sepi, orang yang dulu selalu ada untuk menemani hari-hariku kini telah pergi. Sebisa mungkin aku untuk selalu tersenyum didepan keluarga ku terutama kedua orang tuaku, mereka mencoba unutk membuatku bahagia dengan cara mereka sendiri, aku tau yang mereka lakukan ini adalah untuk kebaikanku, tapi apakah mereka merasa bahwa aku ini sedih ?. "Tidak" mereka sepertinya tidak merasakan apa yang kurasa. Kebahagian yang mereka berikan tak sanggup mengusir rasa sedih dan sepi yang tertanam pada diri ini. Namun aku hanyalah anak yang mencoba untuk berbakti kepada kedua orangtua dan nurut kepada mereka, dalam hati kecilku ku ingin berteriak di depan mereka dan megatakan semua apa yang kurasa, namun aku tak mempunyai cukup keberanian untuk melakukan itu. Aku ini adalah tipe orang yang kalem dan pendiam, dan selalu menyembunyikan masalah atau apapun yang sedang terjadi agar orang lain tidak mengetahuinya. Siang malam aku selalu berdoa kepada Tuhan " kapankah aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan ?" "kenapa orang tuaku tidak pernah mau dan bisa untuk mengerti aku Tuhan ?". Terkadang aku ingin menangis atas apa yang kualami ini, mereka tak pernah bisa merasakan apa yang kurasa, mereka terlalu banyak nuntut ini itu.
Kini aku hanya bisa berharap kepada Tuhan untuk dapat merubah ini semua, satuhal yang kuyakini bahawa Tuhan tidak akan memberikan kesusahan melebihi batas kemampuan hambanya.

1 komentar: