Selasa, 10 Januari 2012

Semakin banyak kriteria, semakin banyak syarat, semakin banyak keinginan.. maka bersiap-siaplah kecewa

Teringat dengan beberapa baris kata yang sering sekali terekam di dalam kepala,

“Tak perlu menuntut yang sempurna, dan mempersulit keadaan yang sebenarnya sederhana. Sebab padamu juga kelemahan itu selalu ada. Yang benar adalah sempurnakanlah niat awal kita, jika ia penuh berkah dan ridha dari-Nya, maka titik kemuliaan menjadi seorang manusia, Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah untuk ada dalam diri kita”

Ada juga sebuah selentingan yang cukup “menggigit”,

“Semakin banyak kriteria, semakin banyak syarat, semakin banyak keinginan.. maka bersiap-siaplah kecewa. Apa penyebabnya ? karena bisa jadi yang diharapkan tak seindah realita, yang disyaratkan tak sempurna dalam lakunya. Maka berharap menemukan seseorang dalam kesempurnaan hanya membuat yang sederhana menjadi rumit dan tak mudah untuk dicerna”

Tentang penggalan kalimat kedua di atas. saya (lagi-lagi) teringat buku Serial Cinta-nya Anis Matta, di topik “Mengelola Ketidaksempurnaan”

“Apa lagi ketampanan yang tersisa di dunia ini ketika telah dibagi habis kepada Nabi Muhammad SAW, dan Yusuf AS. Dan kecantikan yang telah disempurnakan kepada Sarah istri Ibrahim AS dan Khadijah RA Istri Rasulullah. Hingga pesona kebajikan pun telah direnggut habis oleh Utsman bin Affan dan keluruhan budi telah dimiliki secara purna oleh Aisyah RA”
Lalu apa yang tersisa bagi kita manusia? Kita hanya terbagi sedikit (kalaupun ada) keshalihan-keshalihan para salafushalih yang telah hidup dalam cinta pada-Nya secara sempurna. Maka mengharap sebuah kesempurnaan pada seseorang, apalagi ukurannya adalah cantik, kaya, punya kedudukan, juga sangat shalih tanpa cela. Maka bersiap-siaplah kecewa serta bersiap-siaplah untuk terpasung dalam kerumitan. karena mencari satu dari sekian banyak pasangan jiwa dengan kriteria di atas, tak lebih hanya menyulitkan keadaan dan memperkecil kesempatan.

Tapi ini soal SELERA? Ini soal pasangan jiwa yang akan kita punya seumur hidup kita? Kalau kita tak CINTA, kita tak TERTARIK.. bisa kacau akhirnya?

Karena jawaban-jawaban inilah. Kita tengok saja hati-hati kita. Sebab jika NIAT Lillahi Ta’ala, maka kemuliaan pernikahan akan sangat jauh kedekatannya dengan nilai-nilai DUNIA. Ia hanya lekat dengan sebuah tujuan sederhana, “Menikah untuk membuatku lebih cinta pada-Nya, lebih tenteram beribadah kepada-Nya, menjaga kehormatan dan farj-ku dari kemaksiatan, dan menyempurnakan agamaku dan agamanya agar jauh lebih menghamba”. Jika ini terpasung kuat di dalam diri. Maka tambahan kriteria-kriteria lain yang lebih terkesan dunia, Insya Allah akan mulai mudah hilang dalam hitungan waktu yang berikutnya.

Sebagai kalimat penutup, saya ingin menuliskan barisan kalimat sederhana berikut :

“Ukurlah diri.. Berkacalah sedetail mungkin. Karena bisa saja CELA itu jauh lebih banyak dibanding kriteria yang telah diinginkan. Maka tanyalah pada hati yang jernih agar bisa memberi fatwa. Manakah patokan yang harus kau pakai. Jangan sampai hanya ukuran dunia yang menjadi tujuan kita”

Allahu’alam Bishawab

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16075/nasihat-memilih-pasangan-hidup/#ixzz1j4dUmFVp

Senin, 09 Januari 2012

Istighfar dan Wiper

Ketika hujan turun, kaca mobil kita akan terbasahi dengan butiran-butiran air hujan yang jumlahnya mungkin jutaan. Dengan jutaan butiran air hujan itu kaca mobil kita menjadi buram, pandangan mata kita ke jalan jadi kabur. Namun demikian, kita pun secara refleks memegang tuas atau tombol penggerak wiper. Semakin deras hujan maka akan kita stel wiper dengan kecepatan yang lebih tinggi. Dengan wiper, maka guyuran butiran air hujan pun dapat tersapu dan tersingkirkan dari kaca mobil, sehingga kita pun dapat melihat jalan di depan kita. Jalan yang tadinya terlihat buram, sedikit dapat terlihat, sehingga kita pun dapat menjalankan mobil dengan baik.

Begitu juga dengan istigfar. Istighfar dapat membersihkan dosa-dosa kita dan sekaligus juga kita bisa menatap masa depan dengan lebih terang dan tenang, sehingga mempengaruhi cara berpikir kita. Semakin banyak beristigfar maka semakin bersihlah diri kita, sehingga kita pun semakin luas pandangan ke depan.

Rasulullah SAW saja, manusia suci yang sudah dijamin masuk surga beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari [1]

Bisa bayangkan kalau wiper itu tidak kita nyalakan. Tentunya mata kita tidak bisa melihat jalan ke depan dengan jelas karena terhalang oleh butiran air hujan. Begitu pula dengan istigfar. Bagaimana kalau seandainya istigfar tidak pernah kita kerjakan, maka tentunya makin tertutuplah mata hati kita. Semakin kita lupa istigfar, maka semakin bertumpuklah dosa-dosa kita. Dan yang lebih dari itu adalah pandangan kita semakin tertutup oleh nafsu kita sendiri. Sehingga kadang-kadang kita pun susah berpikir dengan jernih. Dengan tidak kita nyalakan wiper, sementara mobil tetap kita jalankan maka besar kemungkinan kita akan menabrak semua yang ada di depan dan di kanan kiri jalan. Pohon-pohon akan tertabrak, begitu juga warung-warung di pinggir jalan, ataupun pengguna jalan yang lain pun bisa tertabrak. Singkatnya, orang lain di pinggir jalan yang tidak bersalah bisa kena getahnya dengan ulah kita itu. Bisa banyak korban berjatuhan karena kesalahan kita.

Maka sungguh beruntung orang-orang yang senantiasa gemar beristighfar, karena dengan istighfar Allah SWT akan memberi ampunan terhadap dosa dan kesalahan kita.

Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.4.110)

Begitulah istigfar dan wiper, keduanya sama-sama membersihkan. Semoga Allah SWT selalu menjadikan kita sebagai hamba yang gemar beristighfar. Amin..

Diambil dari sebuah artikel dari http://indonesian.iloveallaah.com/istighfar-dan-wiper/

Manisnya Hidup

Sebuah kisah yang ditulis oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam kitabnya, At Tawwabin. Kitab At Tawwabin berisikan kisah orang-orang yang bertaubat, kembali kepada Allah SWT, di antaranya adalah kisah taubatnya Malik bin Dinar yang akan aku ceritakan pada tulisan ini.

Walaupun dia seorang muslim, masa lalu Malik bin Dinar jauh dari Allah SWT. Saat itu, kehidupan Malik bin Dinar penuh dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zhalim kepada manusia, dan lain sebagainya. Tidak ada satu maksiat melainkan dia telah melakukannya.

Suatu saat Malik bin Dinar melihat seorang anak perempuan berusia sekitar 3 atau 4 tahun. Malik bin Dinar merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat gadis kecil tersebut. Gadis kecil tersebut sangat manis dan indah dipandang. Melihat gadis kecil itu membuat Malik bin Dinar pun keinginan untuk memiliki anak. Sehingga Malik bin Dinar pun menikah.

Subhanallah, atas rahmat-Nya, Malik bin Dinar pun Allah SWT karuniakan seorang anak perempuan yang kemudian diberi nama Fathimah. Beliau sangat mencintai Fathimah. Setiap kali Fathimah bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hati Malik bin Dinar, dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku. Beliau mendekatkan diri kepada Allah SWT selangkah demi selangkah dan mulai menjauhi maksiat sedikit demi sedikit. Hidup Malik bin Dinar berubah menjadi lebih baik.

Malik bin Dinar merasakan adanya harapan baru dalam hidupnya dengan keberadaan Fathimah. Namun ternyata Allah SWT berkehendak lain. Ketika genap tiga tahun, Fathimah sakit, dan semakin parah. Allah SWT pun memanggil Fathimah ke sisi-Nya. Fathimah meninggal dunia.

Malik bin Dinar tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Maka Malik bin Dinar pun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Beliau belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkan di atas cobaan musibah.

Maka Malik bin Dinar bertekad untuk mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Malik bin Dinar mabuk-mabukan dengan mabuk yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya hingga beliau tidak sadarkan diri dan beliau pun tertidur.

Saat tidur beliau bermimpi. Di alam mimpi tersebut Malik bin Dinar berada pada hari kiamat. Sangat menakutkan! Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumi pun telah berguncang. Manusia pun dibangkitkan dan dikumpulkan. Malik bin Dinar mendengar malaikat memanggil nama dari setiap orang untuk menghadap Al Jabbar. Kemudian beliau mendengar malaikat memanggil nama beliau dan berkata, “Mari menghadap Al Jabbar!” Beliau sangat ketakutan. Tiba-tiba manusia-manusia di sekitar beliau menghilang, hanya beliau seorang diri di Mahsyar.

Kemudian Malik bin Dinar melihat seekor ular besar datang ke arahnya dengan membuka mulutnya. Beliau pun lari karena sangat ketakutan. Lalu beliau mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Malik bin Dinar pun berkata, “Orang tua, selamatkanlah aku dari ular ini!” Orang tua tersebut menjawab, “Aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah gunung sana, mudah-mudahan engkau selamat!”

Malik bin Dinar pun terus berlari menuju gunung tersebut. Kemudian beliau melihat di atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil dan beliau mendengar semua anak tersebut berteriak, “Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu!”

Malik bin Dinar mengenali bahwa dia adalah Fathimah, putrinya. Maka Fathimah pun menghampiri Malik bin Dinar dan kemudian Fathimah mengusir ular dengan tangannya.

Malik bin Dinar bertanya kepada Fathimah, “Apa yang terjadi, wahai Anakku?” Fathimah berkata kepada Malik bin Dinar, “Ayah, apakah engkau tidak mengetahui bahwa perbuatan kita di dunia akan hadir di hari kiamat dalam bentuk fisik yang nyata?”

“… Wawajadu maa ‘amilu haadhiraa …”

“… Mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan hadir di hadapan mereka…” (QS Al Kahfi: 49)

“Ayah, ular itu adalah amal burukmu, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalihmu, engkau telah melemahkannya hingga dia tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisimu.”

“Ayah, belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’, menundukkan hati mengingat Allah mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan?”

“Alam ya’ninil ladzina amanu an takhsya’a qulubuhum li dzikrillah wa ma nazala minal haq…”

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’, menundukkan hati mereka mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka…” (QS Al Hadid: 16)

Malik bin Dinar pun terbangun dari tidurnya dan berteriak, “Wahai Rabbku, sudah saatnya, sudah datang waktunya, wahai Rabbku!” Lantas beliau berwudhu dan pergi ke masjid untuk shalat subuh.

Di dalam shalat subuh, ternyata imam membaca ayat yang sama,

“Alam ya’ninil ladzina amanu an takhsya’a qulubuhum li dzikrillah wa ma nazala minal haq…”

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’, menundukkan hati mereka mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka…” (QS Al Hadid: 16)

Sejak saat itu Malik bin Dinar menjadi seorang shalih dari kalangan tabi’in. Malik bin Dinar sering mengatakan, “Kasihan orang-orang di dunia ini, yaitu mereka yang hidup di dunia ini tapi tidak merasakan sesuatu yang paling manis dalam hidup ini.”

Apa sesuatu yang paling manis dalam hidup ini? Malik bin Dinar mengatakan, “Senantiasa mengingat Allah dan mematuhi-Nya.

Di ambil dari sebuah artikel dari http://indonesian.iloveallaah.com/manisnya-hidup/”

Minggu, 08 Januari 2012

Kau Akan Rasakan Seperti yang Orang Lain Rasakan Disaat Kau Jatuh

Semua yang terjadi didunia ini tidaklah hanya kebetulan tapi semua itu sudah ada yang atur, apapun kejadainnya sudah direncanakan oleh sang maha kuasa, apa yang kau punya dan kau dapat saat ini belum tentu itu dapat membuatmu bahagia.
Aku bangga akan segala sesuatu yang aku punya saat ini, kehidupan uang aku alami saat ini membuatku merasakan bahagia, aku kuliah dan sambil berjualan online, dan daganganku ini saat ini sedang banyak diminati oleh orang-orang dan aku bangga karena aku memiliki tubuh yang sempurna dan wajah yang tidak jelek, setiap orang yang aku suka dapat aku taklukkan hatinya dan setiap keinginan dapat aku miliki dengan mudah karena ekonomiku yang bagus. aku sungguh merasa bahagia dan tak ingin kebahagiaan ini hilang, sampai aku tak sadar bahwa sesngguhnya aku telah banyak menyakiti dan melukai perasaan orang lain karena hal tersebut, aku tak memperdulikan mereka semua sampai mereka semua pergi, tooh aku masih memiliki semua ini kekayaan dan kesempurnaan tubuh,
sampai suatu saat terjadi hal-hal yang membuatku semakin lama semakin merasakan sulit, semakin berat beban yang kurasakan. Daganganku ditipu oleh orang kepercayaanku sendiri, barang-barang yang kumiliki tak lama semakin berkurang karena ada yang kecopetan dan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan aku mengalami kecelakaan yang membuat ku tak seperti dulu lagi sampai hal itu terjadi, aku sungguh-sungguh tak punya apa-apa lagi, semua teman yang dulu selalu ada untukku kini telah pergi karena tingkah dan kealkuan ku sendiri, aku tak pernah memperdulikan perasaan orang lain dan kini aku merasakan orang lain benar-benar tak memperdulikan aku, semua kini telah pergi meninggalkan aku, aku hanya memiliki orangtua yang sakit-sakitan dirumah sehingga aku tak ingin kembali kerumah dalam keadaan seperti ini, aku tak punya siapa-siapa lagi. Aku teringat pesan yang dikatakan seorang teman kepadaku "apa yang kau dapatkan dan rasakan nanti adalah karena kelakuan dan perbuatnmu di masa-masa sebelumnya" dan kini hal itu benar-benar kualami. Aku baru merasakan seperti orang-orang yang dulu sering aku kecewakan, sakiti, dan bohongi rasakan. Saat itu aku tak pernah berfikir tentang perasaan orang lain hanya bersenang-senanglah yang aku pikirkan.

Kamis, 05 Januari 2012

Profesi Akuntansi

Mengapa suatu profesi dibutuhkan etika ?
Suatu profesi diperlukan etika untuk memberikan suatu sikap yang baik terhadap seseorang atau menunjukan keseriusan dalam melakukan usaha dalam suatu profesi, suatu etika bisa dikatakan sebagai alat pengendali dalam sebuah profesi, tanpa etika yang kita miliki orang-orang akan menilai kepribadian kita secara buruk apalagi dalam hal sebuah profesi, bisa jadi usaha yang kita lakukan tersebut tidak diminati oleh para pembeli karena memiliki nilai atau nama yang buruk.


Jelaskan 4 kebutuhan dasar yang harus dipenuhi suatu profesi ? dan berilah contohnya masing-masing!
Kredibilitas = Kredibilitas adalah kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan.
Contohnya = Kredibilitas seorang penjual kepada seorang pembeli agar para pembeli merasa percaya dan puas dalam melakukan suatu bisnis atau membeli produk dari sebuah profesi yang dilakukan.

Profesionalisme = Merupakan sifat kemahiran, kemampuan, cara pelaksanaan dari sesuatu yang dilakukan oleh seseorang.
Contohnya = Profesionalisme dalam melakukan suatu kegiatan ataupun profesi sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawabnya agar dapat tercapai tujuan dari sebuah kegiatan yang dilakukannya.

Kualitas Jasa = Kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dan baik kepada masyarakat.
Contohnya = Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada pelanggan, agar para pelanggan merasa puas dan dapat memberikan kepercayaan terhadap pelanggan tersebut yang nantinya pelanggan tersebuat akan datang kembali untuk melakukan sebuah transaksi atau perdagangan.

Kepercayaan = kepercayaan (trust) sebagai derajat di mana seseorang yang percaya menaruh sikap positif terhadap keinginan baik dan keandalan orang lain yang dipercayanya di dalam situasi yang berubah ubah dan beresiko.
Contohnya = Memberikan sebuah kepercayaan kepada seseorang dalam melakukan sebuah profesi yang dijalaninya.