Jumat, 25 Mei 2012

Ingatlah

Seseorang sering tak menyadari bahwa perkataan yang dulu pernah ia katakan "tidak" justru malah dilakukan dilain hari berbalik 180 derajat dari yang dulunya ia pernah ucapkan tidak akan melakukan hal ini tetapi dilain hari justru ia melakukan hal tersebut, entah apa yang menyebabkan hal ini terjadi tetapi banyak diluar sana yang seperti itu, entah bagaimana bisa untuk tidak seperti itu, entah apa sebutan untuk orang yang melakukan hal seperti itu, apa yang diucapkannya tidak sesuai seperti yang diucapkannya, apa yang dijanjikannya pada lain hari justru dilanggarnya, apa yang telah menjadi komitmennya pada hari ini semua itu akan ditinggalkan pada lain hari, apakah mereka semua itu tak merasa malu dan bersalah sedikitpun atas semua itu ? apakah mereka pikir dengan melakukan hal tersebut mereka akan jauh lebih bahagia ? apakah mereka pernah memikirkan bagaimana perasaan orang yang dilakukan seperti itu seperti dia telah berjanji sesuatu terhadap seseorang namun justru ia melanggarnya dan menghancurkan semua janji-janji tersebut ? pernahkah mereka befikir jika hidup didunia ini tak selamanya sesuai dengan keinginan yang mereka inginkan ? pernahkah mereka sedikit saja berkaca kepada diri mereka sendiri ? pernahkah mereka berfikir bahwa suatu saat nanti hal tersebut justru akan menimpa kepada dirinya sendiri ? karena segala sesuatunya didunia ini memiliki sebab akibat sudah siapkah mereka dengan hal-hal yang mereka alami yang mereka lakukan kepada orang lain di waktu dulu ? Mungkin mereka akan merasa bahagia sesaat namun ujung-ujungnya yang ada hanya sebuah penyesalan yang tak akan pernah dan bisa kembali lagi, apa yang akan kita dapatkan dilain hari itu sesungguhnya adalah hasil dari apa yang telah kita perbuat dan lakukan dihari ini, kebaikan akan mendatangkan pada kebaikan dan begitupun sebaliknya, bersyukurlah atas apa yang telah engkau miliki saat ini, karena dengan rasa syukur tersebut Sang Maha Kuasa akan memberikan dan menambahkan nikmatnya untuk kita namun jika kita kufur akan segala nikmatnya justru azablah yang akan kita terima. Kembali pada diri sendiri sebenarnya, jika pada dasarnya kita memiliki dasar yang kuat insya allah hal tersebut tidak akan pernah terjadi, kesetiaan, rasa syukur, dan pikiran positf yang kita punya mungkin akan membantu untuk tidak melakukan hal-hal seperti tersebut. Semuanya itu tergantung pada diri sendiri namun semua itu pula dapat dirubah jika kita mempunya keinginan untuk berubah karena dimana ada niat dan usaha disitu pasti akan ada jalan, rasa syukur dan kesetiaan akan sesuatu juga akan membantu untuk merubah sikap tersebut. Berfikirlah sebelum melakukan, apa yang kau dapatkan disaat ini adalah buah dari perbuatan yang kau lakukan pada waktu dulu.

Sabtu, 07 April 2012

Jangan Lihat Sesuatu Dari Luarnya Saja

Apa yang engkau lihat baik dan bagus itu belum tentu itu adalah yang terbaik untukmu, apa yang kini telah engkau miliki sesungguhnya itu adalah yang terbaik untukmu, bersyukurlah atas apapun yang saat ini telah engkau miliki mulai dari materi, pasangan, maupun apapun yang kini telah engkau miliki, sesungguhnya barangsiapa yang bersyukur kepada Allah maka akan ditambahnya namun jika kita kufur maka siksa Allah sangat pedih. Tak bisa dipungkiri jika diluar sana memang bannyak sesuatu yang dapat menyilaukan mata dan kita ingin memilikinya, tapi apakah jika engkau telah memilikinya engkau akan benar-benar merasa bahagia ? bisa saja justru itu adalah sesuatu yang nantinya akan membuatmu menderita. Bersyukurlah atas apa yang kini telah engkau miliki karena itu adalah yang terbaik untukmu karena pada dasarnya Allah swt tak akan memberikan sesuatu yang tidak baik untuk kita pastinya itu adalah yang terbaik untuk kita. Manusia kebanyakan melihat segala sesuatunya itu dari luarnya saja, banyak diluar sana yang terlihat dari luar buruk justru sebenarnya dia adalah orang yang paling baik dan pintar yang tidak dapat dimiliki oleh oranglain. Apakah jika kita berfikir orang yang kita lihat itu bagus atau baik dia juga memiliki sesuatu yang baik juga ? apakah anda selalu memperhatikan setiap detiknya apa yang orang tersebut lakukan sehingga memberikan fikiran kepada anda bahwa orang itu sungguh baik atau bagus memiliki penampilan yang menawan ? Manusia memang diciptakan memiliki sifat yang namannya "tidak pernah puas", pasti manusia akan menginginkan ini itu walaupun dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya tersebut, sudah punya satu dia menginginkan untuk memiliki dua atau bahkan yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya dia miliki. Apakah engkau sadar jika segala sesuatunya didunia ini tidak ada yang sempurna, jika engkau menginginkan sesuatu karena "aku ingin yang lebih baik lagi", yang ada stres lah yang akan didapatkan karena merasa selalu mendaptkan yang tidak baik dan menginginkan untuk selalu memiliki yang lebih. Namun hal ini dapat dicegah dengan suatu sifat yang bernama "SYUKUR dan IKHLAS". Dengan syukur kita dapat merasa jika yang kita miliki ini adalah yang terbaik dan jika dirawat maka akan menjadi yang terbaik, karena sifat syukur ini memberikan suatu fikiran positif. Sedangkan sifat ikhlas akan memberikan kita suatu ketenenangan, karena segala sesuatunya itu sudah diperhitungkan dan sudah mempunyai batasan-batasannya. Jika kedua sifat ini digabungkan maka insya allah sifat kurang baik itu bisa dikurangkan.

Apa yang Dibanggakan ?

Apa yang ada di dunia ini semuanya adalah milik-Nya, mobil, motor, rumah mewah, jabatan, bahkan sesungguhnya diri kita pribadi adalah milik-nya, semua yang kita miliki didunia ini adalah milik-Nya dan akan kembali pada-Nya, harta yang kita miliki saat ini itu semua adalah cobaan dan itu semua tak akan selamanya dirasakan. Jadi kapanpun jika Allah ingin memintanya kembali kita harus siap dan ikhlas. Apa yang engkau banggakan dari semua ini jika pada akhirnya semua itu hanya akan sia-sia kecuali amal kebaikan yang tak akan pernah sia-sia ? Bagaimanakah bila semua yang engkau miliki saat ini semua itu akan pergi hilang meninggalkan dirimu ? Bagaimanakah jika penampilan fisik yang engkau miliki saat ini dicabut olehnya atau digantikan dengan yang lebih buruk ? masihkah engkau akan merasa seperti dulu yang merasa dapat memiliki segalanya dengan penampilan tersebut ? apakah masih ada orang-orang yang akan selalu setia menemanimu seperti sekarang ini saat semua penampilan itu dicabut ? Bagaimanakah jika harta yang engkau miliki saat ini semua itu akan di tarik oleh-Nya ? masihkah engkau akan merasa sombong ? masihkah engkau tak memperdulikan perasaan orang lain ? Bagaimanakah jika hatimu dicabut atau dimatikan oleh-Nya ? masihkah engkau bisa tertawa dan menangis ? masihkah engkau bisa menghina orang lain ? Bagaimanakah bila waktu telah terhenti ? Bagaimanakah bila tak ada lagi yang dapat menolongmu disaat angkau merasakan kesusahan ? Bagaimanakah engkau merasa bangga akan dunia yang sementara ? Dunia dipenuhi dengan hiasan, tapi itu semua akan sirna dan hilang pada waktunya. Semua akan terlambat jika waktunya telah tiba. Bukalah hatimu dari sekarang dan rasakan apa yang selama ini engkau abaikan, bukalah matamu dan mulailah melihat dan merasakan apa yang orang lain rsakan.

Kisah Seorang Pengemis

Alkisah, tersebutlah sepasang suami istri yang tengah bersiap menikmati hidangan ayam panggang di meja makan. Mereka hidup dengan berkecukupan. Tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk oleh seorang pengemis. Sang istri ingin memberinya makanan, akan tetapi suaminya kemudian menghardik dan mengusir pengemis itu. Tidak berapa lama kemudian, usaha si suami mengalami kebangkrutan. Kekayaannya sirna. Selain itu, Karena perangainya yang buruk, ia juga bercerai dengan istrinya. Sang wanita kemudian menikah lagi dengan seorang pria yang baik perangainya lagi hidup berkecukupan. Suatu ketika, wanita itu tengah bersiap menikmati hidangan ayam panggang di meja makan bersama suami barunya. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seorang pengemis. “Tolong berikan makanan kita kepadanya,” pinta si pria kepada istrinya. Wanita itu mematuhi kata suaminya. Ketika kembali, wanita itu menangis tersedu-sedu. “Apa yang membuatmu menangis?” tanya suaminya. “Pengemis tadi ternyata adalah suamiku. Dahulu, kami juga pernah didatangi oleh pengemis ketika tengah menikmati hidangan, lalu ia menghardik dan mengusir pengemis itu. Sekarang, ternyata ia justru menjadi pengemis.” Suaminya berkata lembut, “Tahukah engkau, pengemis yang dulu diusirnya itu adalah aku.” … Sumber kisah: al-Mustathraf fi Kull[i] Fann Mustazhraf, vol. I, hlm. 27. ******* Allah `Azza wa Jalla berfirman: قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، تُولِجُ اللَّيْلَ فِي الْنَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الَمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” [QS Āli `Imrān/3: 26-27.] dikutip dari : http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/03/kisah-seorang-pengemis.html

Minggu, 19 Februari 2012

Aku Lupa

Di pagi itu aku bangun tepat pukul 05.00 pagi setelah sebelumnya pada malam hari aku melakukan aktifitas-aktifitasku sehari-hari sebagai seorang penulis yang mencoba mencari sebuah ide atau judul tulisan yang dapat menarik pembacanya. Aku terbangun karena aku mendengar bunyi alarm yang sengaja aku pasang dan setel jam segitu, seperti biasa begitu aku bangun pagi lalu aku mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat shubuh, dalam do'a setelah aku selesai sholat shubuh aku memanjatkan do'a yang berharap akan perubahan kehidupan yang menjadi lebih baik lagi dari sekarang, karena saat ini aku bisa dikatakan hidup serba kekurangan, aku tinggal di sebuah tempat kecil yang hanya berisi kamar mandi dan ruang tamu saja dan itupun hasil dari pemberian orang yang baik hati dan kasihan kepadaku, namun aku menyebutnya itu adalah rumahku tempat aku berfikir untuk mendapatkan uang yang nanti bisa aku pakai untuk makan sehari-hari. Aku bukanlah seorang penulis buku terkenal, aku hanya seorang laki-laki yang mencoba menjual sebuah tulisan-tulisan yang bisa dikatan menarik kepada sebuah media. tak jarang dari tulisan yang aku tulis dan ingin aku jual ke media-media itu dibeli atau menarik orang yang menjaga atau menseleksi tulisan-tulisan tersebut, namun aku terus berusaha dan tetap semangat dalam mencari uang yang halal hasil keringat sendiri. Sudah hampir 2 tahun lebih aku menjadi seorang penulis kecil-kecilan ini, tak jarang pula aku mencoba melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan, namun semuanya nihil, aku ditolak mentah-mentah karena aku tak bisa apa-apa dan aku hanya lulusan SMU, sebenarnnya aku ini seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, namun karena keterbatasan biaya aku memilih untuk berhenti kuliah saja, padahal aku sudah semester 7 pada waktu itu tinggal sedikit lagi aku bisa menjadi seorang sarjana. Aku tinggal dijakarta ini seorang diri karena orangtuaku berada di luar pulau jawa dan mereka sudah sangat tua dan sakit-sakitan dan mereka kini dirawat oleh saudara-saudaraku.

Kehidupanku setelah aku putus kuliah sangat berat, tak jarang aku seharian penuh tak makan karena tak mempunyai sepeser uangpun, dan tak jarang juga aku diberikan makanan oleh tetangga dekat rumahku karena aku terhadap keluarganya sudah dianggap seperti anak sendiri, anaknyalah yang menjadi temanku dan karena aku sering bermain kerumahnya dan orangtuanya kenal dekat denganku maka kini aku sudah dianggap anak sendiri oleh mereka,namun aku bukanlah seorang yang berpangku tangan dan mengharap akan belas kasihan dari orang lain, aku terus dan terus berusaha mencari pekerjaan walau hanya jadi tukang cuci piring yang penting aku bisa makan dan melanjutkan kehidupan ini. Sambil menjadi seorang penulis jalanan aku juga merangkap sebagi tukang cuci kendaraan pada suatu bengkel, walaupun penghasilannya masih kurang yang penting aku bisa makan untuk saat itu.
Hari berganti hari bulan pun berganti bulan samapai tahunpun ikutan berganti, pada suatu pagi aku ikut sholat shubuh berjamaah di suatu masjid besar di salah satu perumahan mewah dijakarta, dan ternyata sehabis shubuh dimasjid tersebut mengadakan siraman rohani, akupun ikut mendengarkan bersama-sama orang-orang yang hadir pada pengajian tersebut, dan pada waktu pengajian itu aku duduk disamping seorang laki tua yang berambut putih hampir tidak adalagi yang berwarna hitam karena sudah tertutup dengan ubannya itu, pria itu lalu menyapaku lalu dengan spontan dan penuh senyum akupun membalas sapanya tersebut, dan percakapan pun berlangsung hingga pengajian itu selesai, tentunya pada saat sang ustad menyampaikan tausiyahnya aku dan sang pria ini ikut mendengarkan perkataan-perkataan yang terucap dari mulut sang ustad tersebut. Pria berambut putih itu lalu menanyakan tentang pekerjaanku, dan tentu saja akupun akan menceritakannya sambil berfikir positif saja, karena sesuai dengan firman-Nya yang berbunyi "aku tergantung prasangka hambaku", sebelum aku sempat memberitahukan pekerjaanku, aku berfikir "mungkin pria berambut putih inilah yang dikirimkan oleh Allah swt yang nantinya merubah kehidupanku yang saat ini kurasakan sangat susah", lalu akupun memberitahukan kepadanya tentang semua pekerjaan ku itu,pada saat aku berkata "aku adalah seorang penulis jalanan kecil-kecilan" pria itu lalu tertawa dan menepuk pundak ku ini, lalu diapun berkata "hai anak muda tidak ada itu yang namanya seorang penulis jalanan kecil-kecilan, seorang penulis akan terus menjadi seorang penulis dan nama itu akan terus merekat padannya." lalu diapun ingin melihat semua hasil dari tulisan yang aku pernah tulis, dia memberikan alamat emailnya untuk dikirim tulisannya kesitu.
Siangnya akupun pergi kerumah temanku yang orangtuanya sudah menganggapku seperti anak sendiri lalu menceritakan kejadian yang tadi pagi menimpaku, aku memakai komputernya menulis dan mengirim tulisan-tulisanku tersebut ke email yang tadi pagi diberikan olah pria berambut putih tersebut, setelah itu aku kembali kerja sebagai tukang cuci kendaraan pada suatu bengkel.
Keesokan harinya temanku itu menghampiri aku dan memberitahuakan kepadaku bahwa aku diundang besok ketempat kerjanya pada siang hari pukul 02.00 siang dengan menyuruhku membawa sebuah tulisan yang baru yang menarik yang dapat membuat seorang pembaca bergairah membaca tulisan tersebut, permintaan pria berambut putih itupun aku turuti, pada malam harinya aku membuat sebuah tulisan yang nantinya akan kuserahkan untuknya.

Di pagi itu seusai aku sholat shubuh aku melanjutkan sebuah tulisan yang sempat tertunda pengerjaannya akibat aku ketiduran, yang nanti siangnya ingin aku berikan kepada pria berambut putih. Tepat pukul 02.00 siang aku sampai di tempat kerja dari pria berambut putih tersebut,ternyata dia kerja pada peruasahan besar dan saat aku bertemu dengan dirinya aku keget ternyata pria ini adalah pemilik dari perusahaan besar tersebut, lalu akupun memberikan hasil tulisanku itu kepadanya, setelah menunggu beberapa saat diapun mengatakan padaku "selamat tulisan anda ini sangat menarik dan hampir dari seluruh karyawan dan petinggi yang ada pada perusahaan ini menyukai tulisan anda, baiklah kalau begitu, kapan anda siap untuk bekerja untuk perusahaan ini ?" mendengar pernyataan tersebut akupun diam seribu bahasa tak percaya akan kejadian ini, lalu pria itupun kembali berkata "sebenarnya sata sedang mencari seorang penulis muda yang berbakat dan kreatif, dan hal itu saya dapatkan pada diri anda anak muda, jadi muali besok saya ingin anda bekerja di perusahaan ini dan menghasilkan tulisan-tulisan yang menarik lagi yang nantinya akan saya publikasikan ke masyarakat luas, anda siap ?" dalam keadaan masih tak percaya akupun lalu menganggukkan kepalaku. Kabar inipun lalu aku sampaikan kepada temanku dan orangtuanya ini, merekapun sangat senang mendengar kabar tersebut.

Keesoakan harinya pun aku mendatangi perusahaan tersebuat dan mulai melakuykan kerja di hari pertama aku kerja, selang beberapa bulan berlalu aku mulai merasakan perubahan dalam hidupku, perasaan lapar yang dulu selalu aku rasakan setiap hari kini sudah lagi tak kurasakan karena aku sekarng telah hidup berkecukupan, setahun pun telah aku lalui semenjak aku kerja diperusahaan tersebut, kini aku telah memliki mobil sendiri hasil kerja kerasku selama ini, kehidupan ku pun kini sungguh-sungguh berubah, saat ini aku hidup penuh dengan kemewahan dan sudah tidak tinggal lagi di perumahan kumuh seperti waktu itu, segala apa yang kuinginkan kini sanggup aku beli dan dapatkan, kesombonganpun mulai mendatangiku dan menjadi temanku saat ini, orang-orang yang dulu selalu membantuku kini aku telah melupakannya sibuk dengan kebahagiaanku sendiri, dan aku tak ingin berusan lagi dengan mereka.
Suatu ketika ada teman dikantorku yang kehilangan handphone nya dan iapun meminjam uang kepadaku untuk beli handphone lagi seadanya, namun aku sombong dan berkata "sudah tak usah difikirkan uang yang aku pinjamkan ini,ini mah kecil gak seberapa,aku masih bisa memberikanmu yang lebih bagus lagi jika kamu mau." lantaran perkataannya ini sang temanpun berkata " hai, janganlah kau sombong atas apa yang kini telah kau dapatkan dan rasakan, semua ini akan kembali lagi pada-Nya" lalu aku menganggukan kepala dan tak memperdulikan perkataan temanku tersebut. Kehidupanku kini bisa dikatakan sudah membuatku jauh dari Tuhan, akupun sering berfoya-foya dengan teman-teman baruku disana dan tak memperhatikan dan memperdulikan orang lain diluar sana yang merasa kelaparan dan membutuhkan uluran tangan. Tak jarang akupun suka bermain ke klub-klub malam sambil ditemani wanita-wanita cantik yang berpakaian minim yang tak jarang salah satu dari wanita-wanita itu aku ajak pulang tidur bersamaku.

Saat ini sungguh aku merasa sangat bahagia, karena bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan, dan kesombongan kini menjadi temanku karena aku merasa bisa memiliki segalanya dengan uang yang aku miliki ini,sampai suatu ketika aku terjatuh sakit, pertama-tama aku berfikir "ahh..ini mah sakit biasa ntar juga ilang" tapi sudah lebih dari 3bulan aku mengalami penyakit ini tak kunjung sembuh malah bertambah parah, akupun pergi bolak-balik kerumah sakit untuk berobat, sampai-sampai hartaku yang selama ini aku kumpulkan telah habis aku pakai untuk berobat, dan karena penyakit yang aku alami ini membuat aku tidak fokus bekerja lagi dan pada akhirnya akupun dipecat karena penyakit ini. Tiap kali aku batuk pasti mengeluarkan darah dan lebih parahnya lagi tangan kiri ku tak bisa digerakkan, lalu teman-teman kantorku pun datang menjenguk dan memberikan saran untuk dirawat inap saja dirumah sakit, mendengar saran itu, akupun mengiakannya, sebulan aku dirawat inap di rumah sakit yang berkawasan didaerah jakarta sampai-sampai aku menjual mobil dan rumahku untuk kesembuhanku ini, dalam malam itu aku menangisi akan segala perbuatanku selama ini, aku diberikan kekayaan tapi aku tidak bersyukur justru aku sombong dan kufur, baru sekarang lagi aku berfikir seperti itu, dalam hati aku berkata sambil menangis "Ya Allah ampunilah kebodohan dan kesalahan hambamu ini".
Pada suatu pagi aku dibangunkan oleh seorang perawat yang mengatakan bahwa jika anda ingin dirawat lebih lama lagi disini anda harus membayar uang lebih lagi, akupun berkata " baik hal itu akan saya lakukan" namun dalam hati aku berfikir "uang darimana lagi untuk membayar rumah sakit ini? semua harta dan yang dulu aku kumpulkan kini telah aku jual" lalu perawat itu berkata lagi "kalau sampai nanti malm anda belum juga membayar, dengan berat hati pihak rumah sakit akan mengusir anda". Aku hanya bisa menangis dan terus menangis, aku menyesal atas semua yang dulu aku lakukan, aku lupa, aku tak memperdulikan dirimu ya Allah, aku melalaikan semua perintahmu ya Allah, aku tak melakukan lagi hal-hal yang dulu sering aku lakukan saat aku mash susah seperti bersedekah,sholat malam, dan lain sebagainya, maafkanlah aku ya Allah yang telah lupa akan dirimu.
Dalam kesedihan plus kebingungan, aku pasrahkan segala sesuatunya kepada Allah, aku mengikhlaskan apapun yang akan terjadi pada diriku kelak,pada saat itu datanglah temannya semasa susah beserta orangtuanya, mereka mengatakan "apa yang udah terjadi sama kamu ndo ? kenapa sekarang kamu seperti ini ? hal apa yang udah kamu perbuat sampai Allah memberikan ujian ini sama kamu ndo ?" orangtua ini pun lalu menangis sambil memelukku, setelah itu aku ceritak semuanya dari awal sampai sekarang ini kepada mereka, dan mereka berkata "biar kami saja yang akan mengurus kamu ndo, kamu ndak usah memikirkan siapa yang akan merawat kamu nantinya." pada malam itu pula aku dibawa oleh keluarga temanku ini pulang kembali ketempat dulu aku menjadi seorang pencuci kendaraan. Satu bulan telah berlalu setelah aku keluar dari rumah sakit itu, dan aku merasakan sudah enakan dan tanganku pun sudah bisa digerakkan, keluarga itu merawatku benar-benar dan sangat ikhlas, semua keperluanku mulai dari makanan sampai pakaian mereka semua yang menyiapkannya. Saat mereka membawa makanan untuk makan siangku, aku memegang erat tangan mereka berdua sambil menangis dan berkata "Bapak, bu'e aku mau minta maaf karena disaat aku sudah menjadi orang tapi aku justru lupa kepada kalian dan tak datang lagi berkunjung untuk bersilaturahmi, dan aku ingin bersyukur kepada Allah swt karena telah didatangkan oran-orang seperti kalian untukku serta aku masih di izinkan untuk kembali menjalani kehidupan ini," sambil terus menangis aku berkata "bapak bu'e aku sayang kalian seperti aku menyayangi kedua orangtuaku sendiri."

Hari berganti hari, dan akupun merasa kembali lagi seperti dulu benar-benar vit lagi, pada pagi itu aku bangun dan melangkahkan kakiku ke mesjid terdekat untuk melaksanakan sholat shunuh berjamaah, seusai sholat akupun berdoa "Ya Rob ampunilah aku ini atas segala kekhilafan, kebodohan, kesombonganku ini, karena aku telah tak memperdulikan dirimu, karena aku telah lupa pada-Mu, namun di pagi ini izinkanlah aku untuk kembali kepadamu seutuhnya, aku ucapkan puji syukur kepada-Mu karena engkau masih sayang kepadaku dengan memberikanku penyakit, karena engkau masih mengijinkanku untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang selalu ada untukku, Ya Rob berikanlah selalu keberkahan dalam setiap apapun yang aku dapatkan dan miliki, karena sesungguhnya semua yang aku miliki, semua yang hamba-hambamu miliki itu sejatinya hanya milik-Mu ya Rob, kapan akan engkau ingin mengambilnya aku siap karena itu semua milik-Mu dan aku hany dititipkan saja, kabulakanlah doa hambamu ini ya rob, amiiin"

Fikiran yang Mendatangkan Kebaikan

Semua yang terjadi adalah kehendaknya dan sudah direncanakan oleh sang Khalik. Tawa, sedih, suka, duka, semua itu akan tetap berlalu seiring jalannya waktu, apa yang menurut kita baik belum tentu baik bangi-Nya begitu juga apa yang menurut kita tidak baik atau buruk bisa saja itu adalah yang terbaik bagi-Nya, segala sesuatunya sudah ada yang merencanakannya kita hanya tinggal menjalankan peran kita saja seperti orang-orang yang ada pada sebuah perfilman, kita ini semua adalah aktor dan aktris bagi sebuah film yang kita buat sendiri yang dimana sutradaranya sendiri adalah Tuhan sang semesta alam, apapun yang kita perbuat dibumi itu semua nantinya akan terekam pada sebuah alat jika di ibaratkan dalam dunia perfilman, segala perbuatan baik buruk kita semua itu nantinya akan kita lihat sendiri, jika kita lebih banyak melakukan perbuatan buruk maka siap-siap saja kita akan menyesal dan akan sangat malu akan semua perbuatan kita, namun jika kita lebih banyak melakukan amal kebaikan maka siap-siap pula kita akan mendapatkan sebuah reward yang sangat di idam-idamkan oleh seluruh makhluk hidup di dunia ini yaitu, SURGA.

Segala Kebaiakan tak akan terhapus oleh kepaitan, kita hanya diminta untuk selalu berfikir positif terhadap apapun yang terjadi dan menimpa pada diri kita, karena sesungguhnya dari sikap positif itulah nanti kita akan mendapatkan apa yang kita fikirkan dimana hal ini tercantum dalam sebuah firman Allah Swt pada salah satu ayat Al-Qur'an yang artinya : "Sesungguhnya aku tergantung yang difikirkan hambaku". Dalam kutipan itu kita sebagai hambanya diminta dan dituntut untuk selalu berfikir positif serta bersabar dalam menghadapi segala persoalan dan kesulitan, karena jika ada kesusahan pasti Allah swt pun akan memberikan kemudahan-Nya untuk kita. Segala kesulitan yang menimpa kita sesungguhnya itu karena Dia sayang kepada kita dan mengingatkan kita.

Jangan pernah berfikir "ah,kenapa nasib saya selalu seperti ini, sengsara dan selalu susah ? kenapa saya tak bisa merasakan hal-hal indah seperti orang-orang kaya diluar sana ?" karena dibalik itu semua Allah swt sedang merencanakan sesuatu yang terbaik dan terindah untuk kita, selain itu Dia pun sedang menguji hambanya apakah dia layak atau tidak jika diberikan segala yang dia inginkan tersebut ?. Sekali lagi kita diminta untuk selalu berfikir positif tentang segala sesuatu yang menimpa kita, karena hal itulah nantinya yang akan kita dapatkan, selain itu, kita juga dituntut untuk senantiasa bersabar dalam mengahadapi segala cobaan, karena tak selamanya manusia itu dibawah dan tak selamanya pula manusia itu di atas, hidup akan terus berputaar seperti roda.

Sedekah Menaikan Derajat

ORANG KAYA KIKIR, PELACUR, PENCURI BERTAUBAT KARENA MENERIMA SEDEKAH YANG IKHLAS - Abu Hurairah r.a. berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Seorang laki-laki dari Bani Israil telah berkata, ‘Saya akan bersedekah.’ Maka pada malam hari ia keluar untuk bersedekah. Dan ia a telah menyedekahkannya (tanpa sepengetahuannya) ke tangan seorang pencuri. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan peristiwa itu, yakni ada seseorang yang menyedekahkan hartanya kepada seorang pencuri. Maka orang yang bersedekah itu berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah jatuh ke tangan seorang pencuri.” Kemudian ia berkeinginan untuk bersedekah sekali lagi. Kemudian ia bersedekah secara diam-diam, dan ternyata sedekahnya jatuh ke tangan seorang wanita (ia beranggapan bahwa seorang wanita tidaklah mungkin menjadi seorang pencuri). Pada keesokan paginya, orang-orang kembali membicarakan peristiwa semalam, bahwa ada seseorang yang bersedekah kepada seorang pelacur. Orang yang memberi sedekah tersebut berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah sampai ke tangan seorang pezina.” Pada malam ketiga, ia keluar untuk bersedekah secara diam-diam, akan tetapi sedekahnya sampai ke tangan orang kaya. Pada keesokan paginya, orang-orang berkata bahwa seseorang telah bersedekah kepada seorang kaya. Orang yang telah memberi sedekah itu berkata, “Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekah saya telah sampai kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya.” Pada malam berikutnya, ia bermimpi bahwa sedekahnya telah dikabulkan oleh Allah swt. Dalam mimpinya, ia telah diberitahu bahwa wanita yang menerima sedekahnya tersebut adalah seorang pelacur, dan ia melakukan perbuatan yang keji karena kemiskinannya. Akan tetapi, setelah menerima sedekah tersebut, ia berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang kedua adalah orang yang mencuri karena kemiskinannya. Setelah menerima sedekah tersebut, pencuri tersebut berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang ketiga adalah orang yang kaya, tetapi ia tidak pernah bersedekah. Dengan menerima sedekah tersebut, ia telah mendapat pelajaran dan telah timbul perasaan di dalam hatinya bahwa dirinya lebih kaya daripada orang yang memberikan sedekah tersebut. Ia berniat ingin memberikan sedekah lebih banyak dari sedekah yang baru saja ia terima. Kemudian, orang kaya itu mendapat taufik untuk bersedekah.”

Dari Ali r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Segeralah bersedekah, sesungguhnya musibah tidak dapat melintasi sedekah.”

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah swt. akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah swt., Allah swt. akan mengangkat (derajatnya). (Muslim)

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Ketika seseorang sedang berada di padang pasir, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Curahkanlah ke kebun Fulan.’ Maka bergeraklah awan itu, kemudian turun sebagai hujan di suatu tanah yang keras berbatuan. Lalu, salah satu tumpukan dari tumpukan bebatuan tersebut menampung seluruh air yang baru saja turun, sehingga air mengalir ke suatu arah. Ternyata, air itu mengalir di sebuah tempat di mana seorang laki-laki berdiri di tengah kebun miliknya sedang meratakan air dengan cangkulnya. Lalu orang tersebut bertanya kepada pemilik kebun, “Wahai hamba Allah, siapakah namamu?” Ia menyebutkan sebuah nama yang pernah didengar oleh orang yang bertanya tersebut dari balik mendung. Kemudian pemilik kebun itu balik bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menanyakan nama saya?” Orang itu berkata, “Saya telah mendengar suara dari balik awan, ‘Siramilah tanah Si Fulan,’ dan saya mendengar namamu disebut. Apakah sebenarnya amalanmu (sehingga mencapai derajat seperti itu)?” Pemilik kebun itu berkata, “Karena engkau telah menceritakannya, saya pun terpaksa menerangkan bahwa dari hasil (kebun ini), sepertiga bagian langsung saya sedekahkan di jalan Allah swt., sepertiga bagian lainnya saya gunakan untuk keperluan saya dan keluarga saya, dan sepertiga bagian lainnya saya pergunakan untuk keperluan kebun ini.” (Muslim).

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw. bersabda, “Seorang wanita pezina telah diampuni dosanya karena ketika dalam perjalanan, ia melewati seekor anjing yang menengadahkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya hampir mati karena kehausan. Maka, wanita tersebut menanggalkan sepatu kulitnya, lalu mengikatkannya dengan kain kudungnya, kemudian anjing tersebut diberi minum olehnya. Maka dengan perbuatannya tersebut, ia telah diampuni dosanya.” Seseorang bertanya, “Adakah pahala bagi kita dengan berbuat baik kepada binatang?” Beliau saw. menjawab, “Berbuat baik kepada setiap yang mempunyai hati (nyawa) terdapat pahala.” (Muttafaq ‘alaih)

Di kutip dari : http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10150572215911840&id=109056501839

Selasa, 10 Januari 2012

Semakin banyak kriteria, semakin banyak syarat, semakin banyak keinginan.. maka bersiap-siaplah kecewa

Teringat dengan beberapa baris kata yang sering sekali terekam di dalam kepala,

“Tak perlu menuntut yang sempurna, dan mempersulit keadaan yang sebenarnya sederhana. Sebab padamu juga kelemahan itu selalu ada. Yang benar adalah sempurnakanlah niat awal kita, jika ia penuh berkah dan ridha dari-Nya, maka titik kemuliaan menjadi seorang manusia, Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah untuk ada dalam diri kita”

Ada juga sebuah selentingan yang cukup “menggigit”,

“Semakin banyak kriteria, semakin banyak syarat, semakin banyak keinginan.. maka bersiap-siaplah kecewa. Apa penyebabnya ? karena bisa jadi yang diharapkan tak seindah realita, yang disyaratkan tak sempurna dalam lakunya. Maka berharap menemukan seseorang dalam kesempurnaan hanya membuat yang sederhana menjadi rumit dan tak mudah untuk dicerna”

Tentang penggalan kalimat kedua di atas. saya (lagi-lagi) teringat buku Serial Cinta-nya Anis Matta, di topik “Mengelola Ketidaksempurnaan”

“Apa lagi ketampanan yang tersisa di dunia ini ketika telah dibagi habis kepada Nabi Muhammad SAW, dan Yusuf AS. Dan kecantikan yang telah disempurnakan kepada Sarah istri Ibrahim AS dan Khadijah RA Istri Rasulullah. Hingga pesona kebajikan pun telah direnggut habis oleh Utsman bin Affan dan keluruhan budi telah dimiliki secara purna oleh Aisyah RA”
Lalu apa yang tersisa bagi kita manusia? Kita hanya terbagi sedikit (kalaupun ada) keshalihan-keshalihan para salafushalih yang telah hidup dalam cinta pada-Nya secara sempurna. Maka mengharap sebuah kesempurnaan pada seseorang, apalagi ukurannya adalah cantik, kaya, punya kedudukan, juga sangat shalih tanpa cela. Maka bersiap-siaplah kecewa serta bersiap-siaplah untuk terpasung dalam kerumitan. karena mencari satu dari sekian banyak pasangan jiwa dengan kriteria di atas, tak lebih hanya menyulitkan keadaan dan memperkecil kesempatan.

Tapi ini soal SELERA? Ini soal pasangan jiwa yang akan kita punya seumur hidup kita? Kalau kita tak CINTA, kita tak TERTARIK.. bisa kacau akhirnya?

Karena jawaban-jawaban inilah. Kita tengok saja hati-hati kita. Sebab jika NIAT Lillahi Ta’ala, maka kemuliaan pernikahan akan sangat jauh kedekatannya dengan nilai-nilai DUNIA. Ia hanya lekat dengan sebuah tujuan sederhana, “Menikah untuk membuatku lebih cinta pada-Nya, lebih tenteram beribadah kepada-Nya, menjaga kehormatan dan farj-ku dari kemaksiatan, dan menyempurnakan agamaku dan agamanya agar jauh lebih menghamba”. Jika ini terpasung kuat di dalam diri. Maka tambahan kriteria-kriteria lain yang lebih terkesan dunia, Insya Allah akan mulai mudah hilang dalam hitungan waktu yang berikutnya.

Sebagai kalimat penutup, saya ingin menuliskan barisan kalimat sederhana berikut :

“Ukurlah diri.. Berkacalah sedetail mungkin. Karena bisa saja CELA itu jauh lebih banyak dibanding kriteria yang telah diinginkan. Maka tanyalah pada hati yang jernih agar bisa memberi fatwa. Manakah patokan yang harus kau pakai. Jangan sampai hanya ukuran dunia yang menjadi tujuan kita”

Allahu’alam Bishawab

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16075/nasihat-memilih-pasangan-hidup/#ixzz1j4dUmFVp

Senin, 09 Januari 2012

Istighfar dan Wiper

Ketika hujan turun, kaca mobil kita akan terbasahi dengan butiran-butiran air hujan yang jumlahnya mungkin jutaan. Dengan jutaan butiran air hujan itu kaca mobil kita menjadi buram, pandangan mata kita ke jalan jadi kabur. Namun demikian, kita pun secara refleks memegang tuas atau tombol penggerak wiper. Semakin deras hujan maka akan kita stel wiper dengan kecepatan yang lebih tinggi. Dengan wiper, maka guyuran butiran air hujan pun dapat tersapu dan tersingkirkan dari kaca mobil, sehingga kita pun dapat melihat jalan di depan kita. Jalan yang tadinya terlihat buram, sedikit dapat terlihat, sehingga kita pun dapat menjalankan mobil dengan baik.

Begitu juga dengan istigfar. Istighfar dapat membersihkan dosa-dosa kita dan sekaligus juga kita bisa menatap masa depan dengan lebih terang dan tenang, sehingga mempengaruhi cara berpikir kita. Semakin banyak beristigfar maka semakin bersihlah diri kita, sehingga kita pun semakin luas pandangan ke depan.

Rasulullah SAW saja, manusia suci yang sudah dijamin masuk surga beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari [1]

Bisa bayangkan kalau wiper itu tidak kita nyalakan. Tentunya mata kita tidak bisa melihat jalan ke depan dengan jelas karena terhalang oleh butiran air hujan. Begitu pula dengan istigfar. Bagaimana kalau seandainya istigfar tidak pernah kita kerjakan, maka tentunya makin tertutuplah mata hati kita. Semakin kita lupa istigfar, maka semakin bertumpuklah dosa-dosa kita. Dan yang lebih dari itu adalah pandangan kita semakin tertutup oleh nafsu kita sendiri. Sehingga kadang-kadang kita pun susah berpikir dengan jernih. Dengan tidak kita nyalakan wiper, sementara mobil tetap kita jalankan maka besar kemungkinan kita akan menabrak semua yang ada di depan dan di kanan kiri jalan. Pohon-pohon akan tertabrak, begitu juga warung-warung di pinggir jalan, ataupun pengguna jalan yang lain pun bisa tertabrak. Singkatnya, orang lain di pinggir jalan yang tidak bersalah bisa kena getahnya dengan ulah kita itu. Bisa banyak korban berjatuhan karena kesalahan kita.

Maka sungguh beruntung orang-orang yang senantiasa gemar beristighfar, karena dengan istighfar Allah SWT akan memberi ampunan terhadap dosa dan kesalahan kita.

Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.4.110)

Begitulah istigfar dan wiper, keduanya sama-sama membersihkan. Semoga Allah SWT selalu menjadikan kita sebagai hamba yang gemar beristighfar. Amin..

Diambil dari sebuah artikel dari http://indonesian.iloveallaah.com/istighfar-dan-wiper/

Manisnya Hidup

Sebuah kisah yang ditulis oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam kitabnya, At Tawwabin. Kitab At Tawwabin berisikan kisah orang-orang yang bertaubat, kembali kepada Allah SWT, di antaranya adalah kisah taubatnya Malik bin Dinar yang akan aku ceritakan pada tulisan ini.

Walaupun dia seorang muslim, masa lalu Malik bin Dinar jauh dari Allah SWT. Saat itu, kehidupan Malik bin Dinar penuh dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zhalim kepada manusia, dan lain sebagainya. Tidak ada satu maksiat melainkan dia telah melakukannya.

Suatu saat Malik bin Dinar melihat seorang anak perempuan berusia sekitar 3 atau 4 tahun. Malik bin Dinar merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat gadis kecil tersebut. Gadis kecil tersebut sangat manis dan indah dipandang. Melihat gadis kecil itu membuat Malik bin Dinar pun keinginan untuk memiliki anak. Sehingga Malik bin Dinar pun menikah.

Subhanallah, atas rahmat-Nya, Malik bin Dinar pun Allah SWT karuniakan seorang anak perempuan yang kemudian diberi nama Fathimah. Beliau sangat mencintai Fathimah. Setiap kali Fathimah bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hati Malik bin Dinar, dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku. Beliau mendekatkan diri kepada Allah SWT selangkah demi selangkah dan mulai menjauhi maksiat sedikit demi sedikit. Hidup Malik bin Dinar berubah menjadi lebih baik.

Malik bin Dinar merasakan adanya harapan baru dalam hidupnya dengan keberadaan Fathimah. Namun ternyata Allah SWT berkehendak lain. Ketika genap tiga tahun, Fathimah sakit, dan semakin parah. Allah SWT pun memanggil Fathimah ke sisi-Nya. Fathimah meninggal dunia.

Malik bin Dinar tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Maka Malik bin Dinar pun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Beliau belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkan di atas cobaan musibah.

Maka Malik bin Dinar bertekad untuk mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Malik bin Dinar mabuk-mabukan dengan mabuk yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya hingga beliau tidak sadarkan diri dan beliau pun tertidur.

Saat tidur beliau bermimpi. Di alam mimpi tersebut Malik bin Dinar berada pada hari kiamat. Sangat menakutkan! Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumi pun telah berguncang. Manusia pun dibangkitkan dan dikumpulkan. Malik bin Dinar mendengar malaikat memanggil nama dari setiap orang untuk menghadap Al Jabbar. Kemudian beliau mendengar malaikat memanggil nama beliau dan berkata, “Mari menghadap Al Jabbar!” Beliau sangat ketakutan. Tiba-tiba manusia-manusia di sekitar beliau menghilang, hanya beliau seorang diri di Mahsyar.

Kemudian Malik bin Dinar melihat seekor ular besar datang ke arahnya dengan membuka mulutnya. Beliau pun lari karena sangat ketakutan. Lalu beliau mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Malik bin Dinar pun berkata, “Orang tua, selamatkanlah aku dari ular ini!” Orang tua tersebut menjawab, “Aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah gunung sana, mudah-mudahan engkau selamat!”

Malik bin Dinar pun terus berlari menuju gunung tersebut. Kemudian beliau melihat di atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil dan beliau mendengar semua anak tersebut berteriak, “Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu!”

Malik bin Dinar mengenali bahwa dia adalah Fathimah, putrinya. Maka Fathimah pun menghampiri Malik bin Dinar dan kemudian Fathimah mengusir ular dengan tangannya.

Malik bin Dinar bertanya kepada Fathimah, “Apa yang terjadi, wahai Anakku?” Fathimah berkata kepada Malik bin Dinar, “Ayah, apakah engkau tidak mengetahui bahwa perbuatan kita di dunia akan hadir di hari kiamat dalam bentuk fisik yang nyata?”

“… Wawajadu maa ‘amilu haadhiraa …”

“… Mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan hadir di hadapan mereka…” (QS Al Kahfi: 49)

“Ayah, ular itu adalah amal burukmu, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalihmu, engkau telah melemahkannya hingga dia tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisimu.”

“Ayah, belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’, menundukkan hati mengingat Allah mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan?”

“Alam ya’ninil ladzina amanu an takhsya’a qulubuhum li dzikrillah wa ma nazala minal haq…”

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’, menundukkan hati mereka mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka…” (QS Al Hadid: 16)

Malik bin Dinar pun terbangun dari tidurnya dan berteriak, “Wahai Rabbku, sudah saatnya, sudah datang waktunya, wahai Rabbku!” Lantas beliau berwudhu dan pergi ke masjid untuk shalat subuh.

Di dalam shalat subuh, ternyata imam membaca ayat yang sama,

“Alam ya’ninil ladzina amanu an takhsya’a qulubuhum li dzikrillah wa ma nazala minal haq…”

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’, menundukkan hati mereka mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka…” (QS Al Hadid: 16)

Sejak saat itu Malik bin Dinar menjadi seorang shalih dari kalangan tabi’in. Malik bin Dinar sering mengatakan, “Kasihan orang-orang di dunia ini, yaitu mereka yang hidup di dunia ini tapi tidak merasakan sesuatu yang paling manis dalam hidup ini.”

Apa sesuatu yang paling manis dalam hidup ini? Malik bin Dinar mengatakan, “Senantiasa mengingat Allah dan mematuhi-Nya.

Di ambil dari sebuah artikel dari http://indonesian.iloveallaah.com/manisnya-hidup/”

Minggu, 08 Januari 2012

Kau Akan Rasakan Seperti yang Orang Lain Rasakan Disaat Kau Jatuh

Semua yang terjadi didunia ini tidaklah hanya kebetulan tapi semua itu sudah ada yang atur, apapun kejadainnya sudah direncanakan oleh sang maha kuasa, apa yang kau punya dan kau dapat saat ini belum tentu itu dapat membuatmu bahagia.
Aku bangga akan segala sesuatu yang aku punya saat ini, kehidupan uang aku alami saat ini membuatku merasakan bahagia, aku kuliah dan sambil berjualan online, dan daganganku ini saat ini sedang banyak diminati oleh orang-orang dan aku bangga karena aku memiliki tubuh yang sempurna dan wajah yang tidak jelek, setiap orang yang aku suka dapat aku taklukkan hatinya dan setiap keinginan dapat aku miliki dengan mudah karena ekonomiku yang bagus. aku sungguh merasa bahagia dan tak ingin kebahagiaan ini hilang, sampai aku tak sadar bahwa sesngguhnya aku telah banyak menyakiti dan melukai perasaan orang lain karena hal tersebut, aku tak memperdulikan mereka semua sampai mereka semua pergi, tooh aku masih memiliki semua ini kekayaan dan kesempurnaan tubuh,
sampai suatu saat terjadi hal-hal yang membuatku semakin lama semakin merasakan sulit, semakin berat beban yang kurasakan. Daganganku ditipu oleh orang kepercayaanku sendiri, barang-barang yang kumiliki tak lama semakin berkurang karena ada yang kecopetan dan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan aku mengalami kecelakaan yang membuat ku tak seperti dulu lagi sampai hal itu terjadi, aku sungguh-sungguh tak punya apa-apa lagi, semua teman yang dulu selalu ada untukku kini telah pergi karena tingkah dan kealkuan ku sendiri, aku tak pernah memperdulikan perasaan orang lain dan kini aku merasakan orang lain benar-benar tak memperdulikan aku, semua kini telah pergi meninggalkan aku, aku hanya memiliki orangtua yang sakit-sakitan dirumah sehingga aku tak ingin kembali kerumah dalam keadaan seperti ini, aku tak punya siapa-siapa lagi. Aku teringat pesan yang dikatakan seorang teman kepadaku "apa yang kau dapatkan dan rasakan nanti adalah karena kelakuan dan perbuatnmu di masa-masa sebelumnya" dan kini hal itu benar-benar kualami. Aku baru merasakan seperti orang-orang yang dulu sering aku kecewakan, sakiti, dan bohongi rasakan. Saat itu aku tak pernah berfikir tentang perasaan orang lain hanya bersenang-senanglah yang aku pikirkan.

Kamis, 05 Januari 2012

Profesi Akuntansi

Mengapa suatu profesi dibutuhkan etika ?
Suatu profesi diperlukan etika untuk memberikan suatu sikap yang baik terhadap seseorang atau menunjukan keseriusan dalam melakukan usaha dalam suatu profesi, suatu etika bisa dikatakan sebagai alat pengendali dalam sebuah profesi, tanpa etika yang kita miliki orang-orang akan menilai kepribadian kita secara buruk apalagi dalam hal sebuah profesi, bisa jadi usaha yang kita lakukan tersebut tidak diminati oleh para pembeli karena memiliki nilai atau nama yang buruk.


Jelaskan 4 kebutuhan dasar yang harus dipenuhi suatu profesi ? dan berilah contohnya masing-masing!
Kredibilitas = Kredibilitas adalah kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan.
Contohnya = Kredibilitas seorang penjual kepada seorang pembeli agar para pembeli merasa percaya dan puas dalam melakukan suatu bisnis atau membeli produk dari sebuah profesi yang dilakukan.

Profesionalisme = Merupakan sifat kemahiran, kemampuan, cara pelaksanaan dari sesuatu yang dilakukan oleh seseorang.
Contohnya = Profesionalisme dalam melakukan suatu kegiatan ataupun profesi sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawabnya agar dapat tercapai tujuan dari sebuah kegiatan yang dilakukannya.

Kualitas Jasa = Kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dan baik kepada masyarakat.
Contohnya = Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada pelanggan, agar para pelanggan merasa puas dan dapat memberikan kepercayaan terhadap pelanggan tersebut yang nantinya pelanggan tersebuat akan datang kembali untuk melakukan sebuah transaksi atau perdagangan.

Kepercayaan = kepercayaan (trust) sebagai derajat di mana seseorang yang percaya menaruh sikap positif terhadap keinginan baik dan keandalan orang lain yang dipercayanya di dalam situasi yang berubah ubah dan beresiko.
Contohnya = Memberikan sebuah kepercayaan kepada seseorang dalam melakukan sebuah profesi yang dijalaninya.