Jumat, 09 Desember 2011

Keadaan yang Membuatku Seperti Ini

Memasuki pertengahan sampai akhir dalm hampir setiap bulannya seorang wanita separu baya hampir selalu saja kelihatan murung entah apa yang di fikirkannya, salah satu penyebabnya adalah karena faktor ekonomi keluarga yang selalu saja datang menghampiri tiap bulannya. Tak mempunyai cukup uang membuat wanita separuh baya ini berfikir keras untuk memutar otaknya dan yang ada pada fikirannya adalah bagaimana dia dan sang suami dapat mencukupi semua kebutuhan keluarganya, bahkan tak jarang mereka selalu berfikir "makanan apa yang akan dimakan pada hari ini untuk dia beserta keluarganya" bisa makan saja sudah sangat bersyukur, dan keadaan inilah yang membuat pasangan separuh baya ini meminjam uang kepada saudara-saudaranya atau hutang agar dapat menyambung kehidupan. Sepasang pasangan separuh baya ini memiliki beberapa anak, dan anaknya selalu mencoba mengerti dan memahami keadaan orangtuanya, mencoba selalu tersenyum didepan orangtuanya agar orangtuanya tidak bertmbah beban fikiranny lagi jika dia memberikan raut wajah yang asam, setiap kali sang anak ini meminta sesuatu akan kebutuhannya dan setiap kali itu pula sang orang tua selalu berkata "nanti ya nak jika bapak atau ibu sudah punya uang" dan sang anak ini pun hanya bisa tersenyum sambil mengaggukkan kepalanya meski dia tahu kalau keperluannya itu sangat penting dan sangat dibutuhkan olehnya, tapi dia tidak bisa memaksakan keinginannya itu kepada orangtuanya, hanya kepada Allah lah dia pasrahkan segala-galanya, karena dia yakin akan janji dan ketetapan-Nya. Sang anak yang kini sudah dewasa yang saat ini melakukan kegiatan-kegiatannya disalah satu universitas swasta di Jakarta selalu menjadi pribadi yang didambakan dan di inginkan kehadirannya bagi teman-teman kampusnya, kehadirannya ibarat seperti air yang memberikan kesegaran bagi siapa saja yang curhat atau bercerita kepadanya, kehadirannya tak jarang membuat teman-teman sekitarnya mengikuti gerak-geriknya atau perilakunya yang selalu beribadah dan selalu hadir kerumah Allah Swt yaitu mesjid, dia tak pernah lupa unruk mengerjakan kewajibannya sebagai seorang hamba seperti sholat lima waktu, dan kini ia pun sering melaksanakan yang sunnat-sunnatnya seperti sholat dhuha dan puasa senin kamis. Dalam kegiatan sehari-harinya yang banyak dan pasti mengeluarkan uang tak jarang dia tidak makan karena keperluan-keperluan kuliahnya padahal tak jarang juga dia kuliah dari pagi sampai malam dan hanya dipagi harilah dia makan dan satunya lagi nanti pada saat dia telah kembali pulang kerumah bertemu dengan orangtuanya yang begitu tegar dan sabar menghadapi segala macam cobaan. Diluar rumah sifatnya tak jauh berbeda dengan anak-anak yang lainnya yang juga ingin bermain dan bercanda dengan teman-temannya, setiap dia berada diluar rumah dari sekitar jam 10 pagi sampai habis magrib untuk kegiatan sehari-harinya dia banyak menghabiskan waktunya dimasjid menyendiri berpisah dengan teman-temannya karena teman-temannya semua pergi untuk mengisi kembali perut mereka, namun karena keterbatasan uang yang dia punya dia selalu saja tak ikut makan teman-temannya itu, dia selalu berkata kepada teman-temannya "saya sudah makan dan masih kenyang, kalian duluan saja" tiap kali diajak pergi untuk ikut mereka makan. Sikapnya didalam rumah yang selalu memberikan senyuman dan candaan kepada orangtuanya agar orang tuanya ini dapat tertawa sejenak melupakan masalah ekonomi yang selalu saja di fikirkannya, sikapnya juga yang selalu bersabar akan keadaan yang dialami keluarganya ini membuat orangtuanya bertambah semangatnya dalam mencari rizki untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Sang anak merasa bangga karena dilahirkan dikeluarga tersebut yang memilki orang tua yang sangat penyayang, yang sangat sabar dalam menghadapi segala ujian yang diberikaan sang Khalik kepadanya, yang selalu tegar menghadapi sulitnya kehidupan di dunia ini. Wanita separuh baya dan suaminya selalu mengajarkan kepada dia untuk selalu prihatin jika ingin mendapatkan atau menginginkan sesuatu, pada setiap malam sang wanita separuh baya ini dan suaminya selalu mengajak dia untuk bangun sholat tahajud bermunajat kepadanya, karena dialah sang pemilik alam semesta dan karena hanya dialah yang dapat merubah keadaan ini. Hampir setiap malam dia bangun untuk berdialog berduaan kepada Allah Swt, dan tak jarang pula dia selalu meneteskan air matanya dalam setiap doa-doanya yang dia panjatkan kepada sang Khalik. Keadan seperti ini telah membentuk kepribadian dirinya untuk bersikap sederhana, penyabar, ikhlas, dan jangan pernah putus asa. Terima Kasih ya Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar